Semalam, aku bermimpi mendengar suara ibuku. Ia menceritakan kisah yang sering diceritakannya padaku saat masih kanak-kanak dulu. Aku tak menyadari bahwa kisah itu mengenai diriku.
"Seorang anak laki-laki dan perempuan jatuh cinta setengah mati," suara ibuku berkata. "Mereka memutuskan bertunangan. Dan ketika itulah kedua calon mempelai saling bertukar hadiah.
Anak laki-laki itu sangat miskin--miliknya yang paling berharga hanya arloji yang diwarisinya dari kakeknya. Ketika ia membayangkan rambut kekasihnya yang indah, ia memutuskan menjual arloji itu untuk membelikan jepit rambut perak bagi kekasihnya.
Anak perempuan itu juga tidak mempunyai uang untuk membeli hadiah bagi kekasihnya. Ia pergi ke toko milik pedagang paling sukses di kota itu, dan menjual rambutnya. Dengan uang yang di dapat, ia membelikan rantai jam emas bagi kekasihnya.
Ketika bertemu di pesta pertunangan, si anak perempuan memberikan rantai jam untuk arloji yang telah dijual kekasihnya, dan si anak laki-laki memberinya jepitan untuk rambut yang tidak lagi dimiliki kekasihnya.
Karena saya bukan seorang Notulen, silakan tarik kesimpulan masing-masing. :)
Rabu, 25 Mei 2011
Minggu, 13 Maret 2011
Di Dalam Tubuh Ini (pernah) Hidup Seorang Manusia.
Pintu bagiku sudah tertutup sejak kulihat punggung mereka di atas sebuah motor, menghilang dari pandangan saat berbelok di sebuah tikungan. Dan aku sebisa mungkin menahan sesak yg seketika mencekikku, memaksa diriku untuk tersenyum menerima. Kali ini, bukan dia yg memeluk pinggangku.
Dari tempat persembunyianku, aku setengah mati melawan perasaan asing yg melanda; Sebuah kesadaran baru menohok dadaku dengan kejam. Tak ada lagi kita. Hanya ada aku, aku dan kalian. Gelombang kesadaran itu seolah ingin membunuhku.
Lima tahun dua bulan. Kira-kira, berapa kardus barang kenangan yg bisa dihasilkan dalam waktu lima tahun dua bulan?
Kumpulan potongan karcis bioskop, tiket konser, karcis kereta, surat cinta, sms, boneka, bungkus coklat, Mawar kering yang yang diselipkan di antara lembaran buku, t-shirt pasangan yg kesepian karena pasangannya ada dalam lemarinya, Dan Scrapbook berisi foto-foto selama lima tahun dua bulan.
"Kini kita berada di jalur yang berlawanan arah, kita sudah menginginkan hal yg berbeda, kita tidak bisa bersama lagi."
Susah payah kutanamkan konsep itu di kepalaku agar setidaknya aku bisa menerima keputusannya. Kepalaku bisa menerima, tapi tidak hatiku. Kini aku berdiri di hadapan api yg siap melalap apapun yg ia sentuh. Bunyi perciknya menghajar kayu dan plastik terdengar berdesis, Kadang warna merahnya berpendar biru saat menyentuh senyawa tertentu. Di kanan kiriku, kardus berisi benda-benda kenangan.
Aku siap melepaskan semuanya. Aku siap melempar semua ke dalam api. Potongan-potongan tiket ini, foto-foto ini, dan bahkan, ingatan ini. Satu demi satu benda kenangan itu habis dilalap api, semua berubah jadi abu.
Tapi Tuhan, bagaimana membakar ingatan yg berada di dalam sini, dan sini? Tanyaku sambil menunjuk kepala dan hatiku.
Kemudian, Bayangan memeluk pinggang diatas motor itu kembali menguji kesabaranku. Gambar itu menari seolah ingin mengejekku. Aku, yang ditinggalkan, yang tidak diperkenankan lagi masuk pintu hatinya. Seseorang menetap disana, mengunci pintunya dari dalam. Seketika, api semakin menyebar, berkobar-kobar di kepalaku.
Tetapi, Aku takkan menyebut cintaku padanya sebagai sesuatu yg busuk. Jadi aku tidak akan menggunakan peribahasa 'sebaik-baiknya menyembunyikan bangkai akan tercium juga'. Cinta tak pernah busuk. Walau lahir dari cinta yang lain, cinta tak pernah busuk.
Dari tempat persembunyianku, aku setengah mati melawan perasaan asing yg melanda; Sebuah kesadaran baru menohok dadaku dengan kejam. Tak ada lagi kita. Hanya ada aku, aku dan kalian. Gelombang kesadaran itu seolah ingin membunuhku.
Lima tahun dua bulan. Kira-kira, berapa kardus barang kenangan yg bisa dihasilkan dalam waktu lima tahun dua bulan?
Kumpulan potongan karcis bioskop, tiket konser, karcis kereta, surat cinta, sms, boneka, bungkus coklat, Mawar kering yang yang diselipkan di antara lembaran buku, t-shirt pasangan yg kesepian karena pasangannya ada dalam lemarinya, Dan Scrapbook berisi foto-foto selama lima tahun dua bulan.
"Kini kita berada di jalur yang berlawanan arah, kita sudah menginginkan hal yg berbeda, kita tidak bisa bersama lagi."
Susah payah kutanamkan konsep itu di kepalaku agar setidaknya aku bisa menerima keputusannya. Kepalaku bisa menerima, tapi tidak hatiku. Kini aku berdiri di hadapan api yg siap melalap apapun yg ia sentuh. Bunyi perciknya menghajar kayu dan plastik terdengar berdesis, Kadang warna merahnya berpendar biru saat menyentuh senyawa tertentu. Di kanan kiriku, kardus berisi benda-benda kenangan.
Aku siap melepaskan semuanya. Aku siap melempar semua ke dalam api. Potongan-potongan tiket ini, foto-foto ini, dan bahkan, ingatan ini. Satu demi satu benda kenangan itu habis dilalap api, semua berubah jadi abu.
Tapi Tuhan, bagaimana membakar ingatan yg berada di dalam sini, dan sini? Tanyaku sambil menunjuk kepala dan hatiku.
Kemudian, Bayangan memeluk pinggang diatas motor itu kembali menguji kesabaranku. Gambar itu menari seolah ingin mengejekku. Aku, yang ditinggalkan, yang tidak diperkenankan lagi masuk pintu hatinya. Seseorang menetap disana, mengunci pintunya dari dalam. Seketika, api semakin menyebar, berkobar-kobar di kepalaku.
Tetapi, Aku takkan menyebut cintaku padanya sebagai sesuatu yg busuk. Jadi aku tidak akan menggunakan peribahasa 'sebaik-baiknya menyembunyikan bangkai akan tercium juga'. Cinta tak pernah busuk. Walau lahir dari cinta yang lain, cinta tak pernah busuk.
Senin, 10 Januari 2011
Surat Yang Tak Pernah Sampai
Suratmu itu tidak akan pernah terkirim, karena sebenarnya kamu hanya ingin berbicara pada dirimu sendiri. Kamu ingin berdiskusi dengan angin, dengan wangi sebelas tangkai sedap malam yang kamu beli dari tukang bunga berwajah memelas, dengan nyamuk-nyamuk yang cari makan, dengan malam, dengan detik jam… tentang dia.
Dia, yang tidak pernah kamu mengerti. Dia, racun yang membunuhmu perlahan. Dia, yang kamu reka dan kamu cipta.
Sebelah darimu menginginkan agar dia datang, membencimu hingga muak dia mendekati gila, menertawakan segala kebodohannya, kekhilafannya untuk sampai jatuh hati padamu, menyesalkan magis yang hadir naluriah setiap kali kalian berjumpa. Akan kamu kirimkan lagi tiket bioskop, bon restoran, semua tulisannya--dari mulai nota sebaris sampai doa berbait-bait. Dan beceklah pipinya karena geli, karena asap dan abu dari benda-benda yang ia hanguskan—bukti-bukti bahwa kalian pernah saling tergila-gila—berterbangan masuk ke matanya. Semoga ia pergi dan tak pernah menoleh lagi. Hidupmu, hidupnya, pasti akan lebih mudah.
Tapi, sebelah dari kamu menginginkan agar dia datang, menjemputmu, mengamini kalian, dan untuk kesekian kali, jatuh hati lagi, segila-gilanya, sampai batas gila dan waras pupus dalam kesadaran murni akan Cinta. Kemudian mendamparkan dirilah kalian di sebuah alam tak dikenal untuk membaca ulang semua kalimat, mengenang setiap inci perjalanan, perjuangan, dan ketabahan hati. Betapa sebelah darimu percaya bahwa setetes air mata pun akan terhitung, tak ada yang mengalir mubazir, segalanya pasti bermuara di satu samudra tak terbatas, lautan merdeka yang bersanding sejajar dengan cakrawala.. dan itulah tujuan kalian.
Kalau saja hidup tidak ber-evolusi, kalau saja sebuah momen dapat selamanya menjadi fosil tanpa terganggu, kalau saja kekuatan kosmik mampu stagnan di satu titik, maka… tanpa ragu kamu akan memilih satu detik bersamanya untuk diabadikan. Cukup satu.
Satu detik yang segenap keberadaannya di persembahkan untuk bersamamu, dan bukan dengan ribuan hal lain yang menanti untuk dilirik pada detik berikutnya. Betapa kamu rela membatu untuk itu.
Tapi, hidup ini cair. Semesta ini bergerak. Realitas berubah. Seluruh simpul dari kesadaran kita berkembang mekar. Hidup akan mengikis apa saja yang memilih diam, memaksa kita untuk mengikuti arus agungnya yang jujur tetapi penuh rahasia, kamu, tidak terkecuali
Kamu takut.
Kamu takut karena ingin jujur. Dan kejujuran menyudutkanmu untuk mengakui kamu mulai ragu.
Dialah bagian terbesar dalam hidupmu, tapi karena cemas. Kata ‘sejarah’ mulai menggantung hati-hati di atas sana. Sejarah kalian. Konsep itu menakutkan sekali.
Sejarah memiliki tampuk istimewa dalam hidup manusia, tapi tidak lagi melekat utuh pada realitas. Sejenak seperti awan yang tampak padat berisi tapi ketika disentuh menjadi embun yang rapuh.
Skenario perjalanan kalian mengharuskanmu untuk sering menyejarahkannya, merekamnya, lalu memainkannya ulang di kepalamu sebagai Sang Kekasih Impian, Sang tujuan, Sang Inspirasi bagi segala mahakarya yang termunthakan kedunia. Sementara dalam setiap detik yang berjalan, kalian seperti musafir yang tersesat di padang. Berjalan dengan kompas masing-masing, tanpa ada usaha saling mencocokkan. Sesekali kalian bertemu, berusaha saling toleransi atas nama Cinta dan Perjuangan yang Tidak Boleh Sia-sia. Kamu sudah membayar mahal untuk perjalanan ini. Kamu pertaruhkan segalanya demi apa yang kamu rasa benar. Dan mencintainya menjadi kebenaran tertinggimu.
Lama baru kamu menyadari bahwa Pengalaman merupakan bagian tak terpisahkan dari hubungan yang diikat oleh seutas perasaan mutual.
Lama bagi kamu untuk berani menoleh ke belakang, menghitung, berapa banyakkah pengalaman nyata yang kalian alami bersama?
Sebuah hubungan yang dibiarkan tumbuh tanpa keteraturan akan menjadi hantu yang tidak menjejak bumi, dan alasan cinta yang tadinya diagungkan bisa berubah menjadi utang moral, investasi waktu, perasaan, serta perdagangan kalkulatif antara dua pihak.
Cinta butuh dipelihara. Bahwa di dalam sepak-terjangnya yang serba mengejutkan, cinta ternyata masih butuh mekanisme agar mampu bertahan.
Cinta jangan selalu ditempatkan sebagai iming-iming besar, atau seperti ranjau yang tahu-tahu meledakkanmu—entah kapan dan kenapa. Cinta yang sudah dipilih sebaiknya diikutkan di setiap langkah kaki, merekatkan jemari, dan berjalanlah kalian bergandengan… karena cinta adalah mengalami.
Cinta tidak hanya pikiran dan kenangan. Lebih besar, cinta adalah dia dan kamu. Interaksi. Perkembangan dua manusia yang terpantau agar tetap harmonis. Karena cinta pun hidup dan bukan cuma maskot untuk di sembah sujud.
Kamu ingin berhenti memencet tombol tunda. Kamu ingin berhenti menyumbat denyut alami denyut alami hidup dan membiarkannya bergulir tanpa beban.
Dan kamu tahu, itulah yang tidak bisa dia berikan kini.
Hingga akhirnya…
Di meja itu, kamu di kelilingi tulisan tangannya yang tersisa (kamu baru sadar betapa tidak adilnya ini semua, kenapa harus kamu yang kebagian tugas dokumentasi dan arsip, sehingga cuma kamulah yang tersiksa?).
Jangan heran kalau kamu menangis sejadi-jadinya.
Dia, yang tidak pernah menyimpan gambar rupamu, pasti tidak tahu apa rasanya menatap lekat-lekat satu sosok, membayangkan rasa sentuh dari helai rambut yang polos tanpa busa pengeras, rasa hangat uap tubuh yang kamu hafal betul temperaturnya.
Dan kamu hanya bisa berbagi kesedihan itu, ketidakrelaan itu, kelemahan itu, dengan wangi bunga yang melangu, dengan nyamuk-nyamuk yang putus asa, dengan malam yang pasrah di gusur pagi, dengan detik jam dinding yang gagu karena habis daya.
Sampai pada halaman kedua suratmu, kamu yakin dia akan paham, atau setidaknya setengah memahami, betapa sulitnya perpisahan yang dilakukan sendirian.
Tidak ada sepasang mata lain yang mampu meyakinkanmu bahwa ini memang sudah usai. Tidak ada kata, peluk, cium, atau langkah kaki beranjak pergi, yang mampu menjadi penanda dramatis bahwa sebuah akhir telah diputuskan bersama.
Atau sebaliknya, tidak ada sergahan yang membuatmu berubah pikiran, tidak ada kata ‘jangan’ yang mungkin, apabila di ucapkan dan ditindakkan dengan tepat, akan membuatmu menghambur kembali dan tak mau pergi lagi.
Kamu pun tersadar, itulah perpisahan paling sepi yang pernah kamu alami.
Ketika surat itu tiba di titiknya yang terakhir, masih akan nada sejumput kamu yang bertengger tak mau pergi dari perbatasan usai dan tidak usai. Bagian dari dirimu yang merasa paling bertanggung jawab atas semua yang sudah kalian bayarkan bersama demi mengalami perjalanan hati sedahsyat itu. Dirimu yang mini, tapi keras kepala, memilih untuk tidak ikut pergi bersama yang lain, menetap untuk terus menemani sejarah. Dan karena waktu semakin larut, tenagamu pun sudah menyurut, maka kamu akan membiarkan si kecil itu bertahan semaunya.
Mungkin, suatu saat, apabila sekelumit dirimu itu mulai kesepian dan bosan, ia akan berteriak-teriak ingin pulang. Dan kamu akan menjemputnya, lalu membiarkan sejarah membentengi dirinya dengan tembok tebal yang tak lagi bisa ditembus. Atau mungkin, ketika sebuah keajaiban mampu menguak kekeruhan ini, jadilah ia semacam mercusuar, kompas, Bintang Selatan… yang menunjukkan jalan pulang bagi hatimu untuk, akhirnya, menemuiku.
Aku, yang merasakan apa yang kau rasakan. Yang mendamba untuk mengalami. Aku, yang telah menuliskan surat-surat cinta padamu. Surat-surat yang tak pernah sampai.
Minggu, 26 Desember 2010
Bukan Pasar Malam
Dari buku harian Maria, suatu malam, ketika dia tak punya keberanian untuk berjalan-jalan, untuk hidup, atau untuk terus menunggu telepon yang tak pernah berdering..
Sepanjang hari ini kuhabiskan di luar pasar malam. Berhubung aku tidak bisa menghambur-hamburkan uang begitu saja, kupikir sebaiknya aku sekadar memandangi orang-orang. Lama aku berdiri dekat roller-coaster, dan kuperhatikan kebanyakan orang naik wahana itu karena ingin merasakan debar-debarnya, tapi begitu roller-coaster-nya mulai bergerak, mereka ketakutan dan ingin wahana itu berhenti.
Sebenarnya apa yang mereka harapkan? Mereka sudah memilih petualangan itu, jadi seharusnya mereka siap menjalaninya sampai selesai, bukan? Atau mereka pikir orang pintar seharusnya menghindari wahana yang naik-turun seperti itu dan sebaiknya naik kincir raksasa saja yang terus dan terus berputar di situ-situ juga?
Saat ini aku merasa sangat kesepian dan tak bisa berpikir tentang cinta, tapi aku harus percaya bahwa cinta akan datang, bahwa aku akan mendapatkan keberhasilan, dan bahwa aku ada disini karena aku sendiri telah memilih jalan ini. Roller-coaster inilah hidupku; hidup adalah permainan yang berdesing cepat memabukkan; hidup adalah petualangan terjun dengan parasut; berani mendaki hingga puncak; punya keinginan untuk memaksimalkan diri, bisa merasa marah dan tidak puas saat kau gagal melakukannya.
Berat bagiku berada jauh dari keluarga, dari bahasa yang bisa menjadi saranaku mengekspresikan perasaan-perasaan dan emosi-emosiku, tapi mulai saat ini, setiap kali aku merasa tertekan, aku akan ingat pasar malam ini. Seandainya aku tertidur dan sekonyong-konyong mendapati diriku berada di sebuah roller-coaster saat aku terjaga, bagaimana perasaanku?
Yah, aku akan merasa terperangkap dan mual, takut di setiap belokan, ingin turun. Tapi kalau aku percaya bahwa rel-rel itu adalah takdirku dan Tuhan sendiri yang menjaga mesinnya, maka mimpi buruk itu akan berubah menjadi sesuatu yang mendebarkan. Roller-coaster itu sekadar roller-coaster, mainan yang aman dan bisa dipercaya, yang pada akhirnya akan berhenti, tapi sementara dalam perjalanan, aku mesti melihat pemandangan sekitarku dan berseru-seru gembira.
Sepanjang hari ini kuhabiskan di luar pasar malam. Berhubung aku tidak bisa menghambur-hamburkan uang begitu saja, kupikir sebaiknya aku sekadar memandangi orang-orang. Lama aku berdiri dekat roller-coaster, dan kuperhatikan kebanyakan orang naik wahana itu karena ingin merasakan debar-debarnya, tapi begitu roller-coaster-nya mulai bergerak, mereka ketakutan dan ingin wahana itu berhenti.
Sebenarnya apa yang mereka harapkan? Mereka sudah memilih petualangan itu, jadi seharusnya mereka siap menjalaninya sampai selesai, bukan? Atau mereka pikir orang pintar seharusnya menghindari wahana yang naik-turun seperti itu dan sebaiknya naik kincir raksasa saja yang terus dan terus berputar di situ-situ juga?
Saat ini aku merasa sangat kesepian dan tak bisa berpikir tentang cinta, tapi aku harus percaya bahwa cinta akan datang, bahwa aku akan mendapatkan keberhasilan, dan bahwa aku ada disini karena aku sendiri telah memilih jalan ini. Roller-coaster inilah hidupku; hidup adalah permainan yang berdesing cepat memabukkan; hidup adalah petualangan terjun dengan parasut; berani mendaki hingga puncak; punya keinginan untuk memaksimalkan diri, bisa merasa marah dan tidak puas saat kau gagal melakukannya.
Berat bagiku berada jauh dari keluarga, dari bahasa yang bisa menjadi saranaku mengekspresikan perasaan-perasaan dan emosi-emosiku, tapi mulai saat ini, setiap kali aku merasa tertekan, aku akan ingat pasar malam ini. Seandainya aku tertidur dan sekonyong-konyong mendapati diriku berada di sebuah roller-coaster saat aku terjaga, bagaimana perasaanku?
Yah, aku akan merasa terperangkap dan mual, takut di setiap belokan, ingin turun. Tapi kalau aku percaya bahwa rel-rel itu adalah takdirku dan Tuhan sendiri yang menjaga mesinnya, maka mimpi buruk itu akan berubah menjadi sesuatu yang mendebarkan. Roller-coaster itu sekadar roller-coaster, mainan yang aman dan bisa dipercaya, yang pada akhirnya akan berhenti, tapi sementara dalam perjalanan, aku mesti melihat pemandangan sekitarku dan berseru-seru gembira.
Kamis, 25 November 2010
Tidak Ada Hati Malam Ini
Enam puluh lima tahun setelah kemerdekaan tercapai, kenyataan menunjukkan bahwa kita masih jauh dari tujuan. Kita melihat dengan penuh kecemasan bahwa pimpinan negara dan pemerintahan sekarang ini telah membawa bangsa dan negara Indonesia kepada keadaan yang amat mengkhawatirkan.
Diktator perseorangan dan golongan yang berkuasa bukan lagi merupakan bahaya di ambang pintu, tetapi telah menjadi suatu kenyataan. Cara-cara kebijaksanaan negara dan pemerintahan bukan saja bertentangan dengan asas-asas kerakyatan dan hikmah musyawarah, bahkan menindas dan memperkosanya.
Jelaslah sudah bagi kita, bahwa istilah "demokrasi" dipakai sebagai topeng belaka justru untuk menindas dan menumpaskan asas-asas demokrasi sendiri... Tiba saatnya bagi segenap patriot Indonesia untuk bangkit menggalang kekuatan dan bertindak menyelamatkan bangsa dan negara Indonesia dari jurang malapetaka... MERDEKA!!!!!
Diktator perseorangan dan golongan yang berkuasa bukan lagi merupakan bahaya di ambang pintu, tetapi telah menjadi suatu kenyataan. Cara-cara kebijaksanaan negara dan pemerintahan bukan saja bertentangan dengan asas-asas kerakyatan dan hikmah musyawarah, bahkan menindas dan memperkosanya.
Jelaslah sudah bagi kita, bahwa istilah "demokrasi" dipakai sebagai topeng belaka justru untuk menindas dan menumpaskan asas-asas demokrasi sendiri... Tiba saatnya bagi segenap patriot Indonesia untuk bangkit menggalang kekuatan dan bertindak menyelamatkan bangsa dan negara Indonesia dari jurang malapetaka... MERDEKA!!!!!
Sabtu, 20 November 2010
Untuk Wanita yang (pernah) memelihara naga di kepalanya.
Sekarang pukul 01.30 pagi di tempatmu.
Kulit wajahmu pasti sedang terlipat diantara kerutan sarung bantal. Rambutmu yang tebal menumpuk disisi kanan, karena engkau tidur terlungkup dengan muka menghadap kiri. Tanganmu selalu tampak menggapai, apakah itu yang selalu kau cari dibawah bantal?
Aku selalu ingin mencuri waktumu. Menyita perhatianmu. Semata-mata supaya aku bisa terpilin masuk kedalam lipatan seprai tempat tubuhmu sekarang terbaring.
Sudah hampir empat tahun aku begini. Empat puluh bulan. Kalikan tiga puluh. Kalikan dua puluh empat. Kalikan enam puluh. Kalikan lagi enam puluh. Kalikan lagi enam puluh. Niscaya akan kau dapatkan angka ini: 6.220.800.000
Itulah banyaknya milisekon sejak pertama aku jatuh cinta kepadamu. Angka itu bisa lebih fantastis kalau ditarik sampai skala nano. Silakan cek. Dan aku berani jamin engkau masih ada di situ. Di tiap inti detik, dan di dalamnya lagi, dan lagi, dan lagi...
Penunjuk waktu ku tak perlu mahal-mahal. Memandangmu memberikanku sensasi keabadian sekaligus mortalitas. Rolex tak mampu berikan itu.
Mengertilah, tulisan ini bukan bertujuan untuk merayu. Kejujuran sudah seperti riasan wajah yang menor, tak terbayang menambahinya lagi dengan rayuan. Angka miliaran tadi adalah fakta matematis. Empiris. Siapa bilang cinta tak bisa logis. Cinta mampu merambah dimensi angka dan rasa sekaligus.
Sekarang pukul 02.30 di tempatmu. Tak terasa sudah satu jam aku disini. Menyumbangkan lagi 216.000 milisekon ke dalam rekening waktuku. Terima kasih. Aku semakin kaya saja. Andaikan bisa kutambahkan satuan rupiah, atau lebih baik lagi, dolar, dibelakangnya. Tapi engkau tak ternilai. Engkau adalah pangkal, ujung, dan segalanya yang di tengah-tengah. Sensasi Ilahi. Tidak dolar, tak juga yen, mampu menyajikannya.
Aku tak pernah tahu keadaan tempat tidurmu. Bukan aku yang sering ada disitu. Entah siapa. Mungkin cuma guling atau bantal-bantal ekstra. Terkadang benda-benda mati justru mendapatkan apa yang paling kita inginkan, dan tak sanggup kita bersaing dengannya. Aku iri pada baju tidurmu, handukmu, apalagi pada guling... sudah. Stop. Aku tak sanggup melanjutkan. membayangkan saja ngeri. Apa rasanya dipeluk dan di dekap tanpa pretensi? Itulah surga. Dan manusia perlu beribadah jungkir-balik untuk mendapatkannya? Hidup memang bagaikan mengitari gunung Sinai. Tak diizinkannya kita untuk berjalan lurus-lurus saja demi mencapai tanah Perjanjian.
Kini, izinkan aku tidur. Menyusulmu ke alam abstrak di mana segalanya bisa bertemu. Pastikan kau ada di sana, tidak terbangun karena ingin pipis, atau mimpi buruk. Tunggu aku.
Begitu banyak yang ingin aku bicarakan. Mari kita piknik, mandi susu, potong tumpeng, main pasir, adu jangkrik, balap karung, melipat kertas, naik getek, tarik tambang.. tak ada yang tidak bisa kita lakukan, bukan?
Tapi kalau boleh memilih satu: aku ingin mimpi tidur di sebelahmu. Ada tanganku di bawah bantal, tempat jemarimu menggapai-gapai.
Tidurku meringkuk ke sebelah kanan sehingga wajah kita berhadapan. Dan ketika matamu terbuka nanti, ada aku disana. Rambutku yang berdiri liar dan wajahmu yang tercetak kerut seprai.
Tiada yang lebih indah dari cinta dua orang di pagi hari. Dengan muka berkilap, bau keringat, gigi bermentega, dan mulut asam... mereka masih berani tersenyum dan saling menyapa 'selamat pagi'.
Kulit wajahmu pasti sedang terlipat diantara kerutan sarung bantal. Rambutmu yang tebal menumpuk disisi kanan, karena engkau tidur terlungkup dengan muka menghadap kiri. Tanganmu selalu tampak menggapai, apakah itu yang selalu kau cari dibawah bantal?
Aku selalu ingin mencuri waktumu. Menyita perhatianmu. Semata-mata supaya aku bisa terpilin masuk kedalam lipatan seprai tempat tubuhmu sekarang terbaring.
Sudah hampir empat tahun aku begini. Empat puluh bulan. Kalikan tiga puluh. Kalikan dua puluh empat. Kalikan enam puluh. Kalikan lagi enam puluh. Kalikan lagi enam puluh. Niscaya akan kau dapatkan angka ini: 6.220.800.000
Itulah banyaknya milisekon sejak pertama aku jatuh cinta kepadamu. Angka itu bisa lebih fantastis kalau ditarik sampai skala nano. Silakan cek. Dan aku berani jamin engkau masih ada di situ. Di tiap inti detik, dan di dalamnya lagi, dan lagi, dan lagi...
Penunjuk waktu ku tak perlu mahal-mahal. Memandangmu memberikanku sensasi keabadian sekaligus mortalitas. Rolex tak mampu berikan itu.
Mengertilah, tulisan ini bukan bertujuan untuk merayu. Kejujuran sudah seperti riasan wajah yang menor, tak terbayang menambahinya lagi dengan rayuan. Angka miliaran tadi adalah fakta matematis. Empiris. Siapa bilang cinta tak bisa logis. Cinta mampu merambah dimensi angka dan rasa sekaligus.
Sekarang pukul 02.30 di tempatmu. Tak terasa sudah satu jam aku disini. Menyumbangkan lagi 216.000 milisekon ke dalam rekening waktuku. Terima kasih. Aku semakin kaya saja. Andaikan bisa kutambahkan satuan rupiah, atau lebih baik lagi, dolar, dibelakangnya. Tapi engkau tak ternilai. Engkau adalah pangkal, ujung, dan segalanya yang di tengah-tengah. Sensasi Ilahi. Tidak dolar, tak juga yen, mampu menyajikannya.
Aku tak pernah tahu keadaan tempat tidurmu. Bukan aku yang sering ada disitu. Entah siapa. Mungkin cuma guling atau bantal-bantal ekstra. Terkadang benda-benda mati justru mendapatkan apa yang paling kita inginkan, dan tak sanggup kita bersaing dengannya. Aku iri pada baju tidurmu, handukmu, apalagi pada guling... sudah. Stop. Aku tak sanggup melanjutkan. membayangkan saja ngeri. Apa rasanya dipeluk dan di dekap tanpa pretensi? Itulah surga. Dan manusia perlu beribadah jungkir-balik untuk mendapatkannya? Hidup memang bagaikan mengitari gunung Sinai. Tak diizinkannya kita untuk berjalan lurus-lurus saja demi mencapai tanah Perjanjian.
Kini, izinkan aku tidur. Menyusulmu ke alam abstrak di mana segalanya bisa bertemu. Pastikan kau ada di sana, tidak terbangun karena ingin pipis, atau mimpi buruk. Tunggu aku.
Begitu banyak yang ingin aku bicarakan. Mari kita piknik, mandi susu, potong tumpeng, main pasir, adu jangkrik, balap karung, melipat kertas, naik getek, tarik tambang.. tak ada yang tidak bisa kita lakukan, bukan?
Tapi kalau boleh memilih satu: aku ingin mimpi tidur di sebelahmu. Ada tanganku di bawah bantal, tempat jemarimu menggapai-gapai.
Tidurku meringkuk ke sebelah kanan sehingga wajah kita berhadapan. Dan ketika matamu terbuka nanti, ada aku disana. Rambutku yang berdiri liar dan wajahmu yang tercetak kerut seprai.
Tiada yang lebih indah dari cinta dua orang di pagi hari. Dengan muka berkilap, bau keringat, gigi bermentega, dan mulut asam... mereka masih berani tersenyum dan saling menyapa 'selamat pagi'.
Rabu, 17 November 2010
11 minutes
Alkisah, dulu ada seekor burung jantan yang tampan. Dia punya sepasang sayap yang indah dan tubuhnya berhias bulu beraneka warna yang halus mengilat. Pendeknya, dia diciptakan untuk terbang bebas dilangit biru dan memberi rasa bahagia pada semua makhluk yang memandanginya.
Pada suatu hari, seorang perempuan melihat burung itu dan langsung jatuh hati padanya. Mulutnya menganga penuh kekaguman saat memandangi burung itu terbang membelah langit, jantungnya berdegup kencang, matanya berbinar-binar penuh harap. Dia meminta burung itu membawanya terbang, dan keduanya menari dengan serasi di angkasa. Dia sungguh mengagumi dan memuja burung itu.
Sempat terlintas di benak perempuan itu: Mungkin burung itu ingin berkelana ke puncak-puncak gunung yang jauh! Seketika hatinya risau dan cemas, khawatir hatinya tak mungkin jatuh kepada burung lain. Dan dia merasa sungguh iri, mengapa dia tidak bisa terbang bebas sebagaimana burung pujaannya itu.
Dan dia merasa sangat kesepian.
Lalu dia berpikir: "Akan kubuat sebuah jebakan. Jika burung itu muncul lagi, dia akan terjebak dan tak bisa pergi lagi."
Si burung yang ternyata juga jatuh cinta kepada perempuan itu datang keesokan harinya, terpikat masuk kedalam jebakan, dan akhirnya dikurung oleh perempuan itu.
Dengan puas hati perempuan itu memandangi burung pujaannya setiap hari. Akhirnya dia mendapatkan objek tempat dia menumpahkan segala luapan nafsunya, dan tidak lupa dia memamerkan burung itu kepada teman-temannya yang tak henti-heninya memuji: "kini kau telah mendapatkan segala sesuatu yang kau inginkan."
Namun kini terjadi perubahan yang aneh: karena burung itu telah mutlak dikuasainya dan dia tak perlu merayu dan memikatnya lagi, akhirnya dia tak lagi tertarik kepadanya. Dan si burung yang tak kuasa terbang dan mengungkapkan makna hidupnya yang sejati mulai merana; bulunya yang indah mengilat berubah kusam, dan makhluk penuh pesona itu berubah menjadi buruk rupa, dan perempuan itu semakin lama semakin tak menghiraukan dia, kecuali memberinya makan dan minum serta membersihkan kandangnya.
Pada suatu hari burung yang merana itu mati. Perempuan itu sangat bersedih, dan setiap hari menghabiskan waktunya untuk mengenang si burung. Tapi dia tak lagi hirau pada kandang burung itu--dia hanya teringat saat pertama kali melihat si burung yang mengepakkan sayapnya dengan penuh keyakinan diri di sela-sela awan.
Seandainya dia bisa becermin pada kalbunya yang paling dalam, dia akan insaf bahwa pesona terbesar makhluk berbulu itu adalah kebebasannya, keperkasaan kepak sayapnya, dan bukan sosoknya yang rupawan.
Tanpa kehadiran burung itu, hidupnya berubah hampa dan sepi makna, hingga suatu saat datang maut menjemputnya . "mengapa kau datang kemari?" tanya perempuan itu. "kujelang dirimu agar kau dapat kembali terbang bersamanya ke langit," jawab maut. "kalau saja dulu kaubiarkan dia bebas datang dan pergi, tentu akan semakin besar cinta dan kekagumanmu padanya; dan aku tak perlu datang untuk membawamu kepadanya."
Pada suatu hari, seorang perempuan melihat burung itu dan langsung jatuh hati padanya. Mulutnya menganga penuh kekaguman saat memandangi burung itu terbang membelah langit, jantungnya berdegup kencang, matanya berbinar-binar penuh harap. Dia meminta burung itu membawanya terbang, dan keduanya menari dengan serasi di angkasa. Dia sungguh mengagumi dan memuja burung itu.
Sempat terlintas di benak perempuan itu: Mungkin burung itu ingin berkelana ke puncak-puncak gunung yang jauh! Seketika hatinya risau dan cemas, khawatir hatinya tak mungkin jatuh kepada burung lain. Dan dia merasa sungguh iri, mengapa dia tidak bisa terbang bebas sebagaimana burung pujaannya itu.
Dan dia merasa sangat kesepian.
Lalu dia berpikir: "Akan kubuat sebuah jebakan. Jika burung itu muncul lagi, dia akan terjebak dan tak bisa pergi lagi."
Si burung yang ternyata juga jatuh cinta kepada perempuan itu datang keesokan harinya, terpikat masuk kedalam jebakan, dan akhirnya dikurung oleh perempuan itu.
Dengan puas hati perempuan itu memandangi burung pujaannya setiap hari. Akhirnya dia mendapatkan objek tempat dia menumpahkan segala luapan nafsunya, dan tidak lupa dia memamerkan burung itu kepada teman-temannya yang tak henti-heninya memuji: "kini kau telah mendapatkan segala sesuatu yang kau inginkan."
Namun kini terjadi perubahan yang aneh: karena burung itu telah mutlak dikuasainya dan dia tak perlu merayu dan memikatnya lagi, akhirnya dia tak lagi tertarik kepadanya. Dan si burung yang tak kuasa terbang dan mengungkapkan makna hidupnya yang sejati mulai merana; bulunya yang indah mengilat berubah kusam, dan makhluk penuh pesona itu berubah menjadi buruk rupa, dan perempuan itu semakin lama semakin tak menghiraukan dia, kecuali memberinya makan dan minum serta membersihkan kandangnya.
Pada suatu hari burung yang merana itu mati. Perempuan itu sangat bersedih, dan setiap hari menghabiskan waktunya untuk mengenang si burung. Tapi dia tak lagi hirau pada kandang burung itu--dia hanya teringat saat pertama kali melihat si burung yang mengepakkan sayapnya dengan penuh keyakinan diri di sela-sela awan.
Seandainya dia bisa becermin pada kalbunya yang paling dalam, dia akan insaf bahwa pesona terbesar makhluk berbulu itu adalah kebebasannya, keperkasaan kepak sayapnya, dan bukan sosoknya yang rupawan.
Tanpa kehadiran burung itu, hidupnya berubah hampa dan sepi makna, hingga suatu saat datang maut menjemputnya . "mengapa kau datang kemari?" tanya perempuan itu. "kujelang dirimu agar kau dapat kembali terbang bersamanya ke langit," jawab maut. "kalau saja dulu kaubiarkan dia bebas datang dan pergi, tentu akan semakin besar cinta dan kekagumanmu padanya; dan aku tak perlu datang untuk membawamu kepadanya."
Langganan:
Postingan (Atom)