Nikmatilah kawan, Jangan Tunduk!!!! Tataplah mata mereka yang mengajarkan kita menjadi 'sadis'. Hukuman ini takkan membuat kita tertunduk apalagi mundur. karena kita dibesarkan bukan untuk mundur... Suatu saat kita akan menertawakan hari ini...
Jumat, 22 Oktober 2010
Kamis, 21 Oktober 2010
Batu yang Lemah
Beginilah laki-laki, jika ditantang membahas perasaannya.
Sambil menahan perih, aku menggeleng-geleng kepala.
Sekarang lihat, aku harus menyalahi diriku sendiri karena sebelum menemukannya, sudah kuhentikan permainannya.
Pasti ia sedang menertawai kepasrahanku didalam persembunyiannya, sambil terus menantang tingkat kejelianku terhadap isi perasaannya.
Memang dia begitu.
terlalu hebat dalam banyak teka-teki. Untuk menyama-ratakan kata-katanya dengan daya pikirku saja, aku kesulitan. Sampai-sampai untuk bisa mengerti arti tatapnya, harus kutanya lagi kepada Tuhan.
“Apa arti perpisahan hari ini?”
Lalu katanya : “Perpisahan hari ini beda. Didalamnya mengandung sebuah akad kontrak untuk pertemuan berikutnya, sampai kita menjadi sepasang yang siap untuk tidak dipisahkan siapa-siapa.”
Sial. Ku tahu benar siapa dia.
Mata ini tidak bisa menjelajah seluruh bumi untuk memantau kesungguhan kata hatinya. Jadi, apa perlunya perpisahan hari ini, jika memikirkan dirinya diluar sana adalah seperti menaruh kepalaku diatas bara. “Kau yang hebat, bukan aku.”
Senin,
Selasa,
Rabu,
Kamis,
Jumat,
Sabtu,
Minggu.
7 algojo yang siap memecut tubuhku didalam kesepian kala memandangmu dari jauh.
2011, mungkin aku terbunuh.
Tapi suatu hari nanti, keras batumu akan dibuat retak oleh tetes air mataku yang mulai jatuh sejak hari ini. Artinya, jangan sampai kau menyesal dikemudian hari, karena tidak lagi mudah untukmu menemukan siapa yang pantas jadi pengganti.
Sambil menahan perih, aku menggeleng-geleng kepala.
Sekarang lihat, aku harus menyalahi diriku sendiri karena sebelum menemukannya, sudah kuhentikan permainannya.
Pasti ia sedang menertawai kepasrahanku didalam persembunyiannya, sambil terus menantang tingkat kejelianku terhadap isi perasaannya.
Memang dia begitu.
terlalu hebat dalam banyak teka-teki. Untuk menyama-ratakan kata-katanya dengan daya pikirku saja, aku kesulitan. Sampai-sampai untuk bisa mengerti arti tatapnya, harus kutanya lagi kepada Tuhan.
“Apa arti perpisahan hari ini?”
Lalu katanya : “Perpisahan hari ini beda. Didalamnya mengandung sebuah akad kontrak untuk pertemuan berikutnya, sampai kita menjadi sepasang yang siap untuk tidak dipisahkan siapa-siapa.”
Sial. Ku tahu benar siapa dia.
Mata ini tidak bisa menjelajah seluruh bumi untuk memantau kesungguhan kata hatinya. Jadi, apa perlunya perpisahan hari ini, jika memikirkan dirinya diluar sana adalah seperti menaruh kepalaku diatas bara. “Kau yang hebat, bukan aku.”
Senin,
Selasa,
Rabu,
Kamis,
Jumat,
Sabtu,
Minggu.
7 algojo yang siap memecut tubuhku didalam kesepian kala memandangmu dari jauh.
2011, mungkin aku terbunuh.
Tapi suatu hari nanti, keras batumu akan dibuat retak oleh tetes air mataku yang mulai jatuh sejak hari ini. Artinya, jangan sampai kau menyesal dikemudian hari, karena tidak lagi mudah untukmu menemukan siapa yang pantas jadi pengganti.
Selasa, 19 Oktober 2010
Persahabatan lawan jenis
"Cinta yang timbul karena ketidaksengajaan.”
Itu alasan yang paling cetek untuk rasa cinta pada sahabat sendiri. Merasa cocok, nge-klop dan memiliki selera yang sepadan membuatmu terus berpikir tentang sebuah kemungkinan. Ditambah keperawakan sahabat yang menarik, keahliannya yang kau kagumi, akhirnya hatimu mencair oleh panasnya aura sahabat sendiri. Sayang, tema yang diangkat adalah “menahan rasa cemburu demi persahabatan.” Berarti ini berhubungan dengan rasa cinta yang sepatutnya dilarang. Mencemburui, bicara kau mutlak sebagai pemilik yang tidak rela miliknya dimiliki orang lain. Tapi jika keadaannya berbeda, yaitu kau mengingini yang tidak kau miliki padahal yang kau ingini sudah dimiliki, maka itu sudah mulai menyerempet kearah-arah iri. Berarti, sudah waktunya hati kembali dikoreksi.
Cuma sedikit kekasih yang mengantongi aib kekasihnya, menelan habis kekurangannya. Tetapi ada banyak sahabat yang sanggup akan hal itu. Pada dasarnya, jangan bilang kau sahabat jika kau belum mengantongi aib sahabatmu dan terus merahasiakannya. Jangan bilang kau sahabat jika kau belum menerima kekurangan sahabatmu dan tetap membanggakannya. Jangan bilang kau sahabat jika kau tidak menjadi bagian didalam kedukaannya, dan jangan bilang kau sahabat jika kau menciptakan kesedihan ditengah kebahagiaannya. Mutlak, kau adalah sahabat yang selalu sanggup memaafkannya.
Tetapi ini untungnya. Kau masih seorang sahabat, jika sebuah rahasia, kau mencintainya. Karena kalau sudah bicara cinta, berarti kau bicara kepada dirimu sendiri, yang notabene juga sahabatmu sendiri. Tetapi kadang cinta seringkali menang, melangkahi tempat terlarang tetapi tidak menghindar dari hukuman. Estetika memakan etika. Karena inilah indahnya :
“Sahabat adalah lebih daripada saudara sendiri. Tetapi kekasih yang dulu pernah jadi sahabat, melebihi keduanya.”
Siapa yang tidak mau?! ;)
Itu alasan yang paling cetek untuk rasa cinta pada sahabat sendiri. Merasa cocok, nge-klop dan memiliki selera yang sepadan membuatmu terus berpikir tentang sebuah kemungkinan. Ditambah keperawakan sahabat yang menarik, keahliannya yang kau kagumi, akhirnya hatimu mencair oleh panasnya aura sahabat sendiri. Sayang, tema yang diangkat adalah “menahan rasa cemburu demi persahabatan.” Berarti ini berhubungan dengan rasa cinta yang sepatutnya dilarang. Mencemburui, bicara kau mutlak sebagai pemilik yang tidak rela miliknya dimiliki orang lain. Tapi jika keadaannya berbeda, yaitu kau mengingini yang tidak kau miliki padahal yang kau ingini sudah dimiliki, maka itu sudah mulai menyerempet kearah-arah iri. Berarti, sudah waktunya hati kembali dikoreksi.
Cuma sedikit kekasih yang mengantongi aib kekasihnya, menelan habis kekurangannya. Tetapi ada banyak sahabat yang sanggup akan hal itu. Pada dasarnya, jangan bilang kau sahabat jika kau belum mengantongi aib sahabatmu dan terus merahasiakannya. Jangan bilang kau sahabat jika kau belum menerima kekurangan sahabatmu dan tetap membanggakannya. Jangan bilang kau sahabat jika kau tidak menjadi bagian didalam kedukaannya, dan jangan bilang kau sahabat jika kau menciptakan kesedihan ditengah kebahagiaannya. Mutlak, kau adalah sahabat yang selalu sanggup memaafkannya.
Tetapi ini untungnya. Kau masih seorang sahabat, jika sebuah rahasia, kau mencintainya. Karena kalau sudah bicara cinta, berarti kau bicara kepada dirimu sendiri, yang notabene juga sahabatmu sendiri. Tetapi kadang cinta seringkali menang, melangkahi tempat terlarang tetapi tidak menghindar dari hukuman. Estetika memakan etika. Karena inilah indahnya :
“Sahabat adalah lebih daripada saudara sendiri. Tetapi kekasih yang dulu pernah jadi sahabat, melebihi keduanya.”
Siapa yang tidak mau?! ;)
Bentuk perlawanan dalam diam
Tidak terasa kita sudah sampai disini.
Waktu yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Terasa begitu wajar kalau burung gereja masih berkicau diatap rumah ketika pagi, karena selalu salut menatap titian kita yang masih saja berusaha untuk tegap berdiri.
Maha, ternyata fakta ini tidak secuil senyum-senyum kecil.
Lihat saja cara mereka merealisasikan kekuatirannya! Aneh.
Kita diatur supaya melanggar, diikat supaya berontak dan diancam supaya melawan.
Bukankah itu sama dengan melatih ketangkasan kita untuk membasuh keringat, hari perharinya?
Sekarang bilang terima kasih kepada siapa saja yang menentang.
Karena mereka telah susah payah menyiapkan jalan untuk kita bisa menjadi semakin tak terkalahkan.
Waktu yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Terasa begitu wajar kalau burung gereja masih berkicau diatap rumah ketika pagi, karena selalu salut menatap titian kita yang masih saja berusaha untuk tegap berdiri.
Maha, ternyata fakta ini tidak secuil senyum-senyum kecil.
Lihat saja cara mereka merealisasikan kekuatirannya! Aneh.
Kita diatur supaya melanggar, diikat supaya berontak dan diancam supaya melawan.
Bukankah itu sama dengan melatih ketangkasan kita untuk membasuh keringat, hari perharinya?
Sekarang bilang terima kasih kepada siapa saja yang menentang.
Karena mereka telah susah payah menyiapkan jalan untuk kita bisa menjadi semakin tak terkalahkan.
Minggu, 17 Oktober 2010
Disini aku, dimana kau
Kekasih, terakhir kali kita masih kami, kita berada di bumi. Bumi adalah planet terindah di dunia bagiku saat itu. Walau bagaimanapun keadaanku.
Lalu kau pergi, hatimu menjauh. Jarak yang memisahkan kita kemanapun kau pergi, bagiku sangat dekat. Tapi saat hatimu berjarak, sedekat apapun itu, itu jauh sesungguhnya bagiku. Tak lagi ada kau untukku, maka bumi tidak lagi menjadi tempat terindah bagiku.
Semua suram, semua muram. Penghuni Bumi seakan menyindirku. Tak lama aku bertahan di bumi, jalanan yang sering kita lalui dulu, sudut kota tempat kita pernah berbagi senyum dulu, kursi rumah yang pernah kau duduki dulu, semua menyindirku, aku muak!. Lalu aku pergi dari Bumi yang tidak lagi bersahabat. Dengan emosiku saat itu, aku tak lagi ingin hidup lebih lama. Maka aku pindah ke Jupiter.
Kau tau?! Di Jupiter aku hanya harus melewati kurang dari 10 jam untuk satu harinya, dengan begitu mungkin waktu hidupku akan lebih cepat habis. Kulalui hari demi hari di Jupiter, sendiri. Masih saja aku mengingatmu, aku tak tau. Mungkin karena kita masih dekat, hanya terpisah satu Mars. Maka aku pergi dari Jupiter, semakin menjauhimu. Aku pindah ke Uranus. Entah apa saat itu kau masih mengingatku, tapi aku sangat ingin melupakanmu.
Aku pernah katakan padamu, kekasih. Kau tak akan pernah kehilanganku selama aku hidup, dan itu benar. Bukankah sering aku katakan itu?!
Mengingat itu, aku ingin kau merasakan sakitnya kehilangan. Tapi satu tahun di Uranus berarti 84 tahun di Bumi. Jadi bila kuhitung, kau pasti lebih dulu mati dariku, kau tak akan merasakan sakitnya kehilanganku. Maka aku kembali berpikir untuk pindah ke planet lain. Aku pindah ke Merkurius, satu tahun di Bumi, 88 hari di sana. Aku pasti lebih dulu mati darimu.
Pada hari kedua aku di tempat itu, aku menyadari, satu hari di sana terasa sangat lama, sama dengan 59 hari Bumi. Dan aku masih saja mengingatmu, apa aku harus mengingatmu 59 hari tiap harinya?!
Entahlah, kekasih, seakan tak ada gunanya aku berpindah-pindah. Saat itu aku terpikir untuk kembali ke Bumi, walau menyakitkan, tapi aku merindukanmu. Aku urungkan niatku kembali, aku tak ingin mengganggumu dengan adaku. Aku pindah ke Mars, lebih dekat dari Bumi, tempatmu. Mungkin aku bisa melihatmu dari sana.
Katanya di Mars ada tanda kehidupan, aku berharap, mungkin suatu saat kau akan mengunjungi Mars, walau dengan kekasihmu. Tiap malam kupandangi Bumi, bertanya-tanya apa yang sedang kau lakukan, apakah kau merasa kehilangan?! Aku sangat merindukanmu.
Aku menangis karena tak juga bisa melupakanmu, tak juga bisa berhenti mengharapkanmu, karena rinduku tak terhapuskan. Sedang kau, entahlah, apa yang sedang kau lakukan di Bumi?! Tidakkah kau teringat padaku tiap kali menghela udara Bumi?!
Kau yang tinggal di Bumi, tidakkah Bumi mengingatkanmu akanku?! Akan masa-masa saat kita bersama dulu, tidakkah menyakitimu?! Karena itu menyakitiku saat aku berada di Bumi. Aku bertanya-tanya sendiri, aku tidak lagi di Bumi, tapi masih saja teringat akanmu. Apa yang salah, apa yang membuatku tetap saja mengingatmu?!
Apa mungkin detak jantungku yang mengingatkanku akanmu?!
Ah, aku sadar. Ini memang detak jantung yang sama yang kupakai saat aku bersamamu dulu, saat juga kau bernafas di dekatku, karena itu aku tak bisa melupakanmu. Aku tersadar, mungkin selama detak jantungku masih berdetak seperti ini, aku tak akan pernah bisa melupakanmu. Bagaimana lagi, aku harus menyerah dengan usaha melupakanmu.
Maka dengan luluh lelahku aku menyerah. Aku pindah dari Mars, karena ternyata satu tahun di sana 687 hari Bumi. Kau pasti tetap lebih dulu mati, karena di Bumi hanya 365 hari setahun.
Maka di sinilah aku, sampai saat ini. Tidak jauh darimu, kau hanya tak tau. Aku berada di Venus saat ini. Di sini tidak terlalu nyaman. Ini mungkin tempat yang tepat bagiku, kekasih. Kau tau?! satu tahun di sini hanya 225 hari di Bumi. Aku pasti lebih dulu mati darimu. Tapi satu hari di sini, 243 hari di bumi. Sampai saat ini, dalam satu hari aku mengingatmu 243 kali lebih banyak dari di Bumi, bila kau ingin tau.
Mungkin karena berada di tempat ini, aku akan lebih dulu mati darimu, mungkin kau akan merasa kehilangan saat itu. Itupun bila kau tau, karena kau tak lagi melihatku. Itupun bila kau tau, karena aku tak tau bagaimana cara memberitaumu bila aku mati nanti. Walaupun aku tau, mungkin aku akan berpikir ribuan kali lebih dulu sejak aku mati apakah kau perlu tau dengan kematianku. Bagaimana mungkin aku rela menyakitimu dengan kehilanganku. Kau tak akan tau.
Aku di sini, kekasih, di Venus. Tiap hari, aku mencintaimu 243 kali lebih banyak dari saat dulu aku masih di Bumi. Lihat aku.
Ah iya, Venus adalah planet asal wanita, katanya. Tapi aku tak dapat melihat satupun wanita di sini, kekasih. Apa kau tau mengapa?!
Lalu kau pergi, hatimu menjauh. Jarak yang memisahkan kita kemanapun kau pergi, bagiku sangat dekat. Tapi saat hatimu berjarak, sedekat apapun itu, itu jauh sesungguhnya bagiku. Tak lagi ada kau untukku, maka bumi tidak lagi menjadi tempat terindah bagiku.
Semua suram, semua muram. Penghuni Bumi seakan menyindirku. Tak lama aku bertahan di bumi, jalanan yang sering kita lalui dulu, sudut kota tempat kita pernah berbagi senyum dulu, kursi rumah yang pernah kau duduki dulu, semua menyindirku, aku muak!. Lalu aku pergi dari Bumi yang tidak lagi bersahabat. Dengan emosiku saat itu, aku tak lagi ingin hidup lebih lama. Maka aku pindah ke Jupiter.
Kau tau?! Di Jupiter aku hanya harus melewati kurang dari 10 jam untuk satu harinya, dengan begitu mungkin waktu hidupku akan lebih cepat habis. Kulalui hari demi hari di Jupiter, sendiri. Masih saja aku mengingatmu, aku tak tau. Mungkin karena kita masih dekat, hanya terpisah satu Mars. Maka aku pergi dari Jupiter, semakin menjauhimu. Aku pindah ke Uranus. Entah apa saat itu kau masih mengingatku, tapi aku sangat ingin melupakanmu.
Aku pernah katakan padamu, kekasih. Kau tak akan pernah kehilanganku selama aku hidup, dan itu benar. Bukankah sering aku katakan itu?!
Mengingat itu, aku ingin kau merasakan sakitnya kehilangan. Tapi satu tahun di Uranus berarti 84 tahun di Bumi. Jadi bila kuhitung, kau pasti lebih dulu mati dariku, kau tak akan merasakan sakitnya kehilanganku. Maka aku kembali berpikir untuk pindah ke planet lain. Aku pindah ke Merkurius, satu tahun di Bumi, 88 hari di sana. Aku pasti lebih dulu mati darimu.
Pada hari kedua aku di tempat itu, aku menyadari, satu hari di sana terasa sangat lama, sama dengan 59 hari Bumi. Dan aku masih saja mengingatmu, apa aku harus mengingatmu 59 hari tiap harinya?!
Entahlah, kekasih, seakan tak ada gunanya aku berpindah-pindah. Saat itu aku terpikir untuk kembali ke Bumi, walau menyakitkan, tapi aku merindukanmu. Aku urungkan niatku kembali, aku tak ingin mengganggumu dengan adaku. Aku pindah ke Mars, lebih dekat dari Bumi, tempatmu. Mungkin aku bisa melihatmu dari sana.
Katanya di Mars ada tanda kehidupan, aku berharap, mungkin suatu saat kau akan mengunjungi Mars, walau dengan kekasihmu. Tiap malam kupandangi Bumi, bertanya-tanya apa yang sedang kau lakukan, apakah kau merasa kehilangan?! Aku sangat merindukanmu.
Aku menangis karena tak juga bisa melupakanmu, tak juga bisa berhenti mengharapkanmu, karena rinduku tak terhapuskan. Sedang kau, entahlah, apa yang sedang kau lakukan di Bumi?! Tidakkah kau teringat padaku tiap kali menghela udara Bumi?!
Kau yang tinggal di Bumi, tidakkah Bumi mengingatkanmu akanku?! Akan masa-masa saat kita bersama dulu, tidakkah menyakitimu?! Karena itu menyakitiku saat aku berada di Bumi. Aku bertanya-tanya sendiri, aku tidak lagi di Bumi, tapi masih saja teringat akanmu. Apa yang salah, apa yang membuatku tetap saja mengingatmu?!
Apa mungkin detak jantungku yang mengingatkanku akanmu?!
Ah, aku sadar. Ini memang detak jantung yang sama yang kupakai saat aku bersamamu dulu, saat juga kau bernafas di dekatku, karena itu aku tak bisa melupakanmu. Aku tersadar, mungkin selama detak jantungku masih berdetak seperti ini, aku tak akan pernah bisa melupakanmu. Bagaimana lagi, aku harus menyerah dengan usaha melupakanmu.
Maka dengan luluh lelahku aku menyerah. Aku pindah dari Mars, karena ternyata satu tahun di sana 687 hari Bumi. Kau pasti tetap lebih dulu mati, karena di Bumi hanya 365 hari setahun.
Maka di sinilah aku, sampai saat ini. Tidak jauh darimu, kau hanya tak tau. Aku berada di Venus saat ini. Di sini tidak terlalu nyaman. Ini mungkin tempat yang tepat bagiku, kekasih. Kau tau?! satu tahun di sini hanya 225 hari di Bumi. Aku pasti lebih dulu mati darimu. Tapi satu hari di sini, 243 hari di bumi. Sampai saat ini, dalam satu hari aku mengingatmu 243 kali lebih banyak dari di Bumi, bila kau ingin tau.
Mungkin karena berada di tempat ini, aku akan lebih dulu mati darimu, mungkin kau akan merasa kehilangan saat itu. Itupun bila kau tau, karena kau tak lagi melihatku. Itupun bila kau tau, karena aku tak tau bagaimana cara memberitaumu bila aku mati nanti. Walaupun aku tau, mungkin aku akan berpikir ribuan kali lebih dulu sejak aku mati apakah kau perlu tau dengan kematianku. Bagaimana mungkin aku rela menyakitimu dengan kehilanganku. Kau tak akan tau.
Aku di sini, kekasih, di Venus. Tiap hari, aku mencintaimu 243 kali lebih banyak dari saat dulu aku masih di Bumi. Lihat aku.
Ah iya, Venus adalah planet asal wanita, katanya. Tapi aku tak dapat melihat satupun wanita di sini, kekasih. Apa kau tau mengapa?!
LET IT FLY
Tuhan tahu kita semua seniman dalam hidup. Suatu hari, Dia memberi kita palu untuk membuat patung, di hari lain Dia memberi kita kuas dan cat untuk melukis, atau kertas dan pensil untuk menulis. Tapi kau tidak bisa melukis dengan palu, atau membuat patung dengan kuas. Karena itu, betapapun sulitnya, aku harus menerima berkat kecil hari ini, walaupun berkat itu terlihat bagai kutukan, karena aku merasa menderita pada hari yang indah ini, saat matahari bersinar cerah dan anak-anak bernyanyi di jalanan. Ini satu-satunya jalan bagiku untuk meninggalkan kepedihanku dan membangun kembali hidupku,
Itu sebabnya sangat penting untuk membiarkan hal-hal tertentu berlalu. Lepaskan saja. Biarkan. Orang perlu mengerti bahwa hidup tidak pasti. Kadang-kadang kita menang, kadang-kadang kita kalah. Jangan harapkan imbalan, jangan harapkan pujian atas usahamu, jangan harapkan kejeniusanmu dikenal orang atau cinta mu dimengerti. Tutup lingkarannya. Bukan karena gengsi, ketidak mampuan atau arogansi, tapi karena apapun hal itu, itu sudah tidak sesuai lagi dengan hidupmu. Tutup pintu, hapus catatan, bersihkan rumah, buang debu. Berhentilah menjadi dirimu yang dulu dan jadilah dirimu yang sekarang.
Ah... cinta lagi.. cinta lagi...
Harapku, Ketika aku sudah tidak memilikki apa pun lagi yang bisa dirampas dariku, aku diberi segalanya. Ketika aku sudah tidak lagi menjadi diriku, kutemukan diriku. Ketika aku mengalami kenistaan tapi tetap mengayunkan langkahku, aku mengerti bahwa aku bebas memilih takdirku. Mungkin ada yang salah dengan diriku, entahlah, mungkin hubunganku hanya impian yang tak kumengerti. Yang kutahu walaupun aku bisa hidup tanpa dia, aku ingin bertemu dengannya lagi, untuk mengatakan apa yang tak pernah kukatakan ketika kami masih bersama: aku mencintaimu melebihi cintaku pada diriku sendiri. Kalau aku bisa mengatakan itu, aku bisa meneruskan hidupku, berdamai dengan diriku, karena cinta itu telah menyelamatkanku.
Pada waktu orang membolehkan cinta sejati muncul, hal-hal yang tadinya teratur menjadi berantakan dan menjungkirbalikkan semua yang tadinya kita kira benar dan betul. Dunia akan menjadi suatu kenyataan saat orang belajar mengenal arti cinta; sampai saat itu tiba, kita akan hidup dalam keyakinan bahwa kita tahu arti cinta, tetapi kita selalu tidak pernah punya suatu keberanian untuk menghadapi arti cinta yang sebenarnya.
Cinta adalah kekuatan yang tak akan pernah ditundukkan. Kalau kita berusaha mengendalikannya, cinta akan menghancurkan kita. Kalau kita berusaha mengurungnya, cinta akan memperbudak kita. Kalau kita mencoba memahaminya, cinta akan meninggalkan kita dalam kebingungan.
Langganan:
Postingan (Atom)
