Pernah bersamamu adalah salah satu hadiah terbaik yang pernah diberikan hidup kepadaku. Meskipun pada akhirnya aku tidak mampu mempertahankanmu. Entah tanganku kurang kuat, atau memang tanganmu terlalu kuat untuk kugenggam lalu berjalan bersama pada jalan yang telah kita sepakati. Atau juga kau telah merasa tidak lagi sependapat denganku untuk menggapai apa yang yang menjadi mimpi dengan keringat sendiri. Mungkin kau mencari orang lain yang punya kekuatan untuk membawakan impian ke pangkuanmu tanpa perlu kau mengeluarkan keringat untuk mendapatkannya. Sadarkah kau dengan begitu kau telah menyerahkan dirimu untuk miliknya? Bukan hatimu. Yang tanpa kau sadari membuat ia merasa berhak atas dirimu. Kau pasti mengerti maksudku.
Aku tidak pernah menginginkan kau pergi, tetapi aku juga tidak akan menghalangi jika kau sendiri yang menginginkannya. Meskipun aku mencintaimu, aku tidak akan mencabut kekuasaanmu atas dirimu sendiri.
Jika membicarakan masa lalu, kepalaku tidak akan tertunduk jika itu membicarakanmu.
Ratusan orang yang mengincar hatimu, tetapi aku adalah sosok unik dalam sejarah republik ini, dalam arti aku mengejarmu tanpa bantuan sumber daya apa pun selain bakatku sendiri. Tidak seperti Metellus atau Hortensius, aku bukan berasal dari keluarga aristokrat yang agung, dengan piutang budi politik turun temurun selama beberapa generasi yang dapat ditagih pada saat pemilu. Aku tidak memiliki armada perang yang perkasa seperti Pompeius atau Caesar. Aku tidak memiliki harta melimpah seperti Crassus untuk melicinkan jalan. Yang kumiliki hanyalah semangat pantang kalah oleh luka. Dan aku bangga hatimu pernah bertahta dalam peluk ini. Meski tidak lama.
Minggu, 14 Oktober 2012
Sabtu, 02 Juni 2012
Istana, Bukan Rumah
Pernah bersamamu adalah salah satu hadiah terbaik yang pernah diberikan hidup kepadaku. Meskipun pada akhirnya aku tidak mampu mempertahankanmu. Entah tanganku kurang kuat, atau memang tanganmu terlalu kuat untuk kugenggam lalu berjalan bersama pada jalan yang telah kita sepakati. Atau juga kau telah merasa tidak lagi sependapat denganku untuk menggapai apa yang yang menjadi mimpi dengan keringat sendiri. Mungkin kau mencari orang lain yang punya kekuatan untuk membawakan impian ke pangkuanmu tanpa perlu kau mengeluarkan keringat untuk mendapatkannya. Sadarkah kau dengan begitu kau telah menyerahkan dirimu untuk miliknya? Bukan hatimu. Yang tanpa kau sadari membuat ia merasa berhak atas dirimu. Kau pasti mengerti maksudku.
Sekarang pergilah, jika yang engkau inginkan adalah istana, bukan 'rumah'.
Sekarang pergilah, jika yang engkau inginkan adalah istana, bukan 'rumah'.
Sabtu, 28 April 2012
Selamat Ulang Tahun, Diri Sendiri
24 Tahun lalu, tepat hari ini lahir seorang biasa dari rahim Ibu yang luar biasa. Seandainya saat itu saya telah dapat berinteraksi, mungkin dokter akan langsung memberikan selamatnya kepada saya karena mempunyai seorang Ibu yang hebat.
24 Tahun sudah saya berada di dunia dan belum berbuat apa-apa untuk membuat bangga semua orang terkasih dengan keberadaan saya di bumi. 24 sebenarnya terlalu lama untuk tidak menghasilkan apa-apa. 24 terlalu lama untuk dilewatkan dengan biasa. Namun 24 terlalu sebentar jika dihabiskan bersama kamu, kekasih. (Seserius apa pun, nyepik harus tetap ikut!)
Saya besar dari keluarga yang biasa, tumbuh seperti biasa seperti manusia lainnya. Namun saya hidup diantara orang yang sangat luar biasa. Keluarga yang luar biasa, teman yang luar biasa, lingkungan yang luar biasa. Mereka semua memberi ilmu lebih dari yang sekolah berikan kepada saya. Kalau saya diberikan kesempatan untuk memilih hidup sekali lagi, saya akan tetap meminta hidup seperti ini (cuma kalau boleh, ditambahin bisa main gitar dan piano, biar nggak perlu usaha setengah mati buat dapat pacar). Ah, Tuhan, Engkau memang terlalu baik kepada saya. Seharusnya saya lebih bersyukur atas RahmatMu yang tiada hentinya Engkau berikan. Kalau boleh nanya, Tuhan, kapan jodoh saya yang di tanganMu akan Engkau lepaskan? Kasian dia, Tuhan. *kemudian disambar petir*
Terima kasih, Tuhan, untuk tawa, tangis, manis, pait, ramai, sepi, galau (ini seringnya kelewatan, Tuhan), dan segala kemudahan hidup yang tidak pada semua manusia Engkau berikan selama hidup yang telah saya lewatkan.
Terima kasih, keluarga. Kalian mengajarkan bagaimana menjalani hidup seharusnya dengan usaha tanpa lelah dan dengan tangan sendiri. Bukan dengan gelimpangan uang (walaupun sebenarnya karena memang kita tidak punya), dengan ikut MLM, Judi togel, atau segala bentuk jalan pintas untuk mencapai puncak harapan.
Terima kasih, teman. Kalian membantu saya bangkit dengan pelukan walaupun terkadang memaksa saya harus bangkit dengan tamparan. Namun kita sama-sama tahu bahwa pelukan dan tamparan pada dasarnya hanyalah cara untuk membuat kita sama-sama menggapai mimpi yang sering kita tertawakan karena keseringan kita menganggap mimpi kita terlalu tinggi. Kita sering tidak sadar bahwa tangan kita masih terlalu kecil untuk dapat memeluk gunung yang besar. Tapi ketidakpedulian kita terhadap ukuran tangan kita yang saya anggap sebagai kehebatan kita, kawan. Aduh, ini bukan punya saya!!! *melihat air keluar dari mata*
Terima kasih, untuk wanita yang pernah tinggal di hati saya. Kalian meyakinkan saya kalau apa yang selama ini saya anggap satu-satunya keindahan yang saya miliki yaitu hati saya, bukan merupakan jaminan seseorang akan betah tinggal di dalamnya. Kalian juga telah meyakinkan saya bahwa cinta saja terkadang tidak cukup. Namun mungkin juga cinta kita saja yang masih terlalu lemah untuk dapat bertahan di derasnya arus zaman. Tenang, saya tidak akan memeluk kalian kali ini, karena saya menghargai perasaan pacar kalian. (tapi kapan pacar kalian menghargai perasaan saya? #NggakSantai)
Untuk selanjutnya, saya hanya berharap dapat menghapus satu hal yang saya anggap paling sering saya lakukan. Bukan, saya tidak ingin menghapus kenangan, saya hanya ingin menghilangkan kebiasaan-kebiasaan mengeluh. Pada intinya, saya berterima kasih atas apa yang sudah dan akan terjadi pada hidup saya. Semua itu adalah ilmu yang membuat saya selalu belajar.
Selamat ulang tahun, diri sendiri.
(saya juga nggak ngerti, ini tulisan tentang ulang tahun atau kata pengantar Skripsi)
24 Tahun sudah saya berada di dunia dan belum berbuat apa-apa untuk membuat bangga semua orang terkasih dengan keberadaan saya di bumi. 24 sebenarnya terlalu lama untuk tidak menghasilkan apa-apa. 24 terlalu lama untuk dilewatkan dengan biasa. Namun 24 terlalu sebentar jika dihabiskan bersama kamu, kekasih. (Seserius apa pun, nyepik harus tetap ikut!)
Saya besar dari keluarga yang biasa, tumbuh seperti biasa seperti manusia lainnya. Namun saya hidup diantara orang yang sangat luar biasa. Keluarga yang luar biasa, teman yang luar biasa, lingkungan yang luar biasa. Mereka semua memberi ilmu lebih dari yang sekolah berikan kepada saya. Kalau saya diberikan kesempatan untuk memilih hidup sekali lagi, saya akan tetap meminta hidup seperti ini (cuma kalau boleh, ditambahin bisa main gitar dan piano, biar nggak perlu usaha setengah mati buat dapat pacar). Ah, Tuhan, Engkau memang terlalu baik kepada saya. Seharusnya saya lebih bersyukur atas RahmatMu yang tiada hentinya Engkau berikan. Kalau boleh nanya, Tuhan, kapan jodoh saya yang di tanganMu akan Engkau lepaskan? Kasian dia, Tuhan. *kemudian disambar petir*
Terima kasih, Tuhan, untuk tawa, tangis, manis, pait, ramai, sepi, galau (ini seringnya kelewatan, Tuhan), dan segala kemudahan hidup yang tidak pada semua manusia Engkau berikan selama hidup yang telah saya lewatkan.
Terima kasih, keluarga. Kalian mengajarkan bagaimana menjalani hidup seharusnya dengan usaha tanpa lelah dan dengan tangan sendiri. Bukan dengan gelimpangan uang (walaupun sebenarnya karena memang kita tidak punya), dengan ikut MLM, Judi togel, atau segala bentuk jalan pintas untuk mencapai puncak harapan.
Terima kasih, teman. Kalian membantu saya bangkit dengan pelukan walaupun terkadang memaksa saya harus bangkit dengan tamparan. Namun kita sama-sama tahu bahwa pelukan dan tamparan pada dasarnya hanyalah cara untuk membuat kita sama-sama menggapai mimpi yang sering kita tertawakan karena keseringan kita menganggap mimpi kita terlalu tinggi. Kita sering tidak sadar bahwa tangan kita masih terlalu kecil untuk dapat memeluk gunung yang besar. Tapi ketidakpedulian kita terhadap ukuran tangan kita yang saya anggap sebagai kehebatan kita, kawan. Aduh, ini bukan punya saya!!! *melihat air keluar dari mata*
Terima kasih, untuk wanita yang pernah tinggal di hati saya. Kalian meyakinkan saya kalau apa yang selama ini saya anggap satu-satunya keindahan yang saya miliki yaitu hati saya, bukan merupakan jaminan seseorang akan betah tinggal di dalamnya. Kalian juga telah meyakinkan saya bahwa cinta saja terkadang tidak cukup. Namun mungkin juga cinta kita saja yang masih terlalu lemah untuk dapat bertahan di derasnya arus zaman. Tenang, saya tidak akan memeluk kalian kali ini, karena saya menghargai perasaan pacar kalian. (tapi kapan pacar kalian menghargai perasaan saya? #NggakSantai)
Untuk selanjutnya, saya hanya berharap dapat menghapus satu hal yang saya anggap paling sering saya lakukan. Bukan, saya tidak ingin menghapus kenangan, saya hanya ingin menghilangkan kebiasaan-kebiasaan mengeluh. Pada intinya, saya berterima kasih atas apa yang sudah dan akan terjadi pada hidup saya. Semua itu adalah ilmu yang membuat saya selalu belajar.
Selamat ulang tahun, diri sendiri.
(saya juga nggak ngerti, ini tulisan tentang ulang tahun atau kata pengantar Skripsi)
Senin, 05 September 2011
Selamat Ulang Tahun
Sekitar tiga tahun yang lalu pertama kali aku mendengar lagu The Click Five yang judulnya 'Happy Birthday'. Waktu itu aku berharap dapat menyanyikan lagu itu saat umurmu tepat 21 tahun. Sekarang aku dapat menyanyikannya, tapi tidak bersamamu. Iya, aku menyanyikan lagu ini sendiri di dalam kamar sebuah toko kayu di salah satu Kabupaten di Jawa Barat. Sebenarnya bisa dibilang bukan kamar, tapi sebuah gudang yang disulap menjadi kamar. Jangan dipikirkan, aku sedang tidak membicarakan diriku.
Hey, kamu. Sebuah nama yang tegap berdiri di dalam ruang ingatku. Tepat pada tanggal sekarang di 21 tahun lalu kau hadir ke dunia. Tentu saja waktu itu kau belum menangis untukku. Hingga saat ini pun mungkin kau masih belum pernah menangis untukku. Kuharap itu memang itu tidak pernah terjadi. Ah, itu bukan sebuah masalah bagiku. Yang pasti saat teriakan pertamamu ada banyak senyum bahagia dari orang-orang yang sangat menantikan kehadiranmu, terutama seorang wanita yang dari tubuhnya kau bermetamorfosis menjadi seorang manusia. Ibumu.
Sekarang, usiamu tepat 21 tahun. Usia dimana kau memasuki fase dewasa dan usia dimana seharusnya kau mengetahui betapa tidak enaknya menjadi orang dewasa. Menjadi dewasa berarti menambah hal-hal yang harus kau pikirkan dan menjadi pertimbanganmu sebelum kau menentukan kemana arah akan kau langkahkan kakimu. Bukan seperti beberapa tahun lalu, yang menjadi masalah dalam hidupmu hanya tentang hati dan bagaimana caranya bisa bebas bermain dengan temanmu dan belum hadir kata beban dalam ruang ingatmu. Sekarang kau dituntut untuk tidak hanya memikirkan keinginanmu sendiri dalam mengambil sebuah langkah. Tapi kau juga harus melibatkan orang-orang disekitarmu. Paling tidak keluarga inti ikut menjadi pertimbangan sebelum kau memutuskan mana satu dari banyak mimpimu untuk kau wujudkan.
Oh iya, bagaimana kabarmu? Kau sehat, bukan? Kesehatanmu selalu menjadi hal utama yang sering kupinta kepada Tuhan setelah kebahagiannmu. Iya, aku mendoakan kebahagiaanmu. Mungkin salahku juga jika aku hanya mendoakan kamu bahagia. Aku lupa meminta kau bahagia bersamaku. Tapi terlalu egois jika aku meminta begitu.
Jujur saja, sebenarnya saat ini aku sedang bertarung hebat dengan perasaanku sendiri yang begitu mendesakku untuk menghubungimu tanpa mempedulikan lagi dia yang seharusnya dan kau tunggu untuk mengucapkan kalimat yang seharusnya dari tadi kuucapkan kepadamu, kalimat yang begitu membuatku begitu lelah melawan perasaan yang biasanya mengendalikan arah hidupku. Kau pasti tahu bagaimana beratnya melawan sesuatu yang berkuasa. Itu belum seberapa, aku juga harus menyingkirkan batu besar yang biasa disebut tanda tanya apa aku masih relevan jika mengucapkan selamat kepadamu? Ada dua kemungkinan yang membuatku ragu mengucapkannya.
Pertama, aku takut kau sedih saat aku mengucapkan kalimat tersebut. Aku tidak ingin merusak semua doaku sendiri dengan membuatmu bersedih.
Yang kedua, aku tidak ingin kau mengasihaniku karena aku masih saja menempatkanmu ditempat paling tinggi dalam ruang ingatku. Aku berjuang untukmu, bukan mengemis kepadamu.
Tapi sudahlah, biarkan saja aku mengucapkan yang saat ini paling ingin kau dengar diatas media elektronik yang sebenarnya tidak pernah mampu mewakili sebuah kehadiran. Ucapan selamat ulang tahun doa-doa baik yang sama dengan yang dilontarkan oleh orang sekitarmu yang sangat menyayangimu. Jika nanti aku mempunyai keberanian menyingkirkan batu tadi kemudian mengucapkan selamat ulang tahun kepadamu melalui gelombang suara, aku tidak akan menyertakan doa didalamnya, karena doa untuk kesehatan, kebahagiaan, dan kesuksesanmu tidak hanya kuhadirkan pada tanggal lahirmu.
Selamat ulang tahun.
Hey, kamu. Sebuah nama yang tegap berdiri di dalam ruang ingatku. Tepat pada tanggal sekarang di 21 tahun lalu kau hadir ke dunia. Tentu saja waktu itu kau belum menangis untukku. Hingga saat ini pun mungkin kau masih belum pernah menangis untukku. Kuharap itu memang itu tidak pernah terjadi. Ah, itu bukan sebuah masalah bagiku. Yang pasti saat teriakan pertamamu ada banyak senyum bahagia dari orang-orang yang sangat menantikan kehadiranmu, terutama seorang wanita yang dari tubuhnya kau bermetamorfosis menjadi seorang manusia. Ibumu.
Sekarang, usiamu tepat 21 tahun. Usia dimana kau memasuki fase dewasa dan usia dimana seharusnya kau mengetahui betapa tidak enaknya menjadi orang dewasa. Menjadi dewasa berarti menambah hal-hal yang harus kau pikirkan dan menjadi pertimbanganmu sebelum kau menentukan kemana arah akan kau langkahkan kakimu. Bukan seperti beberapa tahun lalu, yang menjadi masalah dalam hidupmu hanya tentang hati dan bagaimana caranya bisa bebas bermain dengan temanmu dan belum hadir kata beban dalam ruang ingatmu. Sekarang kau dituntut untuk tidak hanya memikirkan keinginanmu sendiri dalam mengambil sebuah langkah. Tapi kau juga harus melibatkan orang-orang disekitarmu. Paling tidak keluarga inti ikut menjadi pertimbangan sebelum kau memutuskan mana satu dari banyak mimpimu untuk kau wujudkan.
Oh iya, bagaimana kabarmu? Kau sehat, bukan? Kesehatanmu selalu menjadi hal utama yang sering kupinta kepada Tuhan setelah kebahagiannmu. Iya, aku mendoakan kebahagiaanmu. Mungkin salahku juga jika aku hanya mendoakan kamu bahagia. Aku lupa meminta kau bahagia bersamaku. Tapi terlalu egois jika aku meminta begitu.
Jujur saja, sebenarnya saat ini aku sedang bertarung hebat dengan perasaanku sendiri yang begitu mendesakku untuk menghubungimu tanpa mempedulikan lagi dia yang seharusnya dan kau tunggu untuk mengucapkan kalimat yang seharusnya dari tadi kuucapkan kepadamu, kalimat yang begitu membuatku begitu lelah melawan perasaan yang biasanya mengendalikan arah hidupku. Kau pasti tahu bagaimana beratnya melawan sesuatu yang berkuasa. Itu belum seberapa, aku juga harus menyingkirkan batu besar yang biasa disebut tanda tanya apa aku masih relevan jika mengucapkan selamat kepadamu? Ada dua kemungkinan yang membuatku ragu mengucapkannya.
Pertama, aku takut kau sedih saat aku mengucapkan kalimat tersebut. Aku tidak ingin merusak semua doaku sendiri dengan membuatmu bersedih.
Yang kedua, aku tidak ingin kau mengasihaniku karena aku masih saja menempatkanmu ditempat paling tinggi dalam ruang ingatku. Aku berjuang untukmu, bukan mengemis kepadamu.
Tapi sudahlah, biarkan saja aku mengucapkan yang saat ini paling ingin kau dengar diatas media elektronik yang sebenarnya tidak pernah mampu mewakili sebuah kehadiran. Ucapan selamat ulang tahun doa-doa baik yang sama dengan yang dilontarkan oleh orang sekitarmu yang sangat menyayangimu. Jika nanti aku mempunyai keberanian menyingkirkan batu tadi kemudian mengucapkan selamat ulang tahun kepadamu melalui gelombang suara, aku tidak akan menyertakan doa didalamnya, karena doa untuk kesehatan, kebahagiaan, dan kesuksesanmu tidak hanya kuhadirkan pada tanggal lahirmu.
Selamat ulang tahun.
Rabu, 25 Mei 2011
Antara Memberi dan Menunjukkan
Semalam, aku bermimpi mendengar suara ibuku. Ia menceritakan kisah yang sering diceritakannya padaku saat masih kanak-kanak dulu. Aku tak menyadari bahwa kisah itu mengenai diriku.
"Seorang anak laki-laki dan perempuan jatuh cinta setengah mati," suara ibuku berkata. "Mereka memutuskan bertunangan. Dan ketika itulah kedua calon mempelai saling bertukar hadiah.
Anak laki-laki itu sangat miskin--miliknya yang paling berharga hanya arloji yang diwarisinya dari kakeknya. Ketika ia membayangkan rambut kekasihnya yang indah, ia memutuskan menjual arloji itu untuk membelikan jepit rambut perak bagi kekasihnya.
Anak perempuan itu juga tidak mempunyai uang untuk membeli hadiah bagi kekasihnya. Ia pergi ke toko milik pedagang paling sukses di kota itu, dan menjual rambutnya. Dengan uang yang di dapat, ia membelikan rantai jam emas bagi kekasihnya.
Ketika bertemu di pesta pertunangan, si anak perempuan memberikan rantai jam untuk arloji yang telah dijual kekasihnya, dan si anak laki-laki memberinya jepitan untuk rambut yang tidak lagi dimiliki kekasihnya.
Karena saya bukan seorang Notulen, silakan tarik kesimpulan masing-masing. :)
"Seorang anak laki-laki dan perempuan jatuh cinta setengah mati," suara ibuku berkata. "Mereka memutuskan bertunangan. Dan ketika itulah kedua calon mempelai saling bertukar hadiah.
Anak laki-laki itu sangat miskin--miliknya yang paling berharga hanya arloji yang diwarisinya dari kakeknya. Ketika ia membayangkan rambut kekasihnya yang indah, ia memutuskan menjual arloji itu untuk membelikan jepit rambut perak bagi kekasihnya.
Anak perempuan itu juga tidak mempunyai uang untuk membeli hadiah bagi kekasihnya. Ia pergi ke toko milik pedagang paling sukses di kota itu, dan menjual rambutnya. Dengan uang yang di dapat, ia membelikan rantai jam emas bagi kekasihnya.
Ketika bertemu di pesta pertunangan, si anak perempuan memberikan rantai jam untuk arloji yang telah dijual kekasihnya, dan si anak laki-laki memberinya jepitan untuk rambut yang tidak lagi dimiliki kekasihnya.
Karena saya bukan seorang Notulen, silakan tarik kesimpulan masing-masing. :)
Minggu, 13 Maret 2011
Di Dalam Tubuh Ini (pernah) Hidup Seorang Manusia.
Pintu bagiku sudah tertutup sejak kulihat punggung mereka di atas sebuah motor, menghilang dari pandangan saat berbelok di sebuah tikungan. Dan aku sebisa mungkin menahan sesak yg seketika mencekikku, memaksa diriku untuk tersenyum menerima. Kali ini, bukan dia yg memeluk pinggangku.
Dari tempat persembunyianku, aku setengah mati melawan perasaan asing yg melanda; Sebuah kesadaran baru menohok dadaku dengan kejam. Tak ada lagi kita. Hanya ada aku, aku dan kalian. Gelombang kesadaran itu seolah ingin membunuhku.
Lima tahun dua bulan. Kira-kira, berapa kardus barang kenangan yg bisa dihasilkan dalam waktu lima tahun dua bulan?
Kumpulan potongan karcis bioskop, tiket konser, karcis kereta, surat cinta, sms, boneka, bungkus coklat, Mawar kering yang yang diselipkan di antara lembaran buku, t-shirt pasangan yg kesepian karena pasangannya ada dalam lemarinya, Dan Scrapbook berisi foto-foto selama lima tahun dua bulan.
"Kini kita berada di jalur yang berlawanan arah, kita sudah menginginkan hal yg berbeda, kita tidak bisa bersama lagi."
Susah payah kutanamkan konsep itu di kepalaku agar setidaknya aku bisa menerima keputusannya. Kepalaku bisa menerima, tapi tidak hatiku. Kini aku berdiri di hadapan api yg siap melalap apapun yg ia sentuh. Bunyi perciknya menghajar kayu dan plastik terdengar berdesis, Kadang warna merahnya berpendar biru saat menyentuh senyawa tertentu. Di kanan kiriku, kardus berisi benda-benda kenangan.
Aku siap melepaskan semuanya. Aku siap melempar semua ke dalam api. Potongan-potongan tiket ini, foto-foto ini, dan bahkan, ingatan ini. Satu demi satu benda kenangan itu habis dilalap api, semua berubah jadi abu.
Tapi Tuhan, bagaimana membakar ingatan yg berada di dalam sini, dan sini? Tanyaku sambil menunjuk kepala dan hatiku.
Kemudian, Bayangan memeluk pinggang diatas motor itu kembali menguji kesabaranku. Gambar itu menari seolah ingin mengejekku. Aku, yang ditinggalkan, yang tidak diperkenankan lagi masuk pintu hatinya. Seseorang menetap disana, mengunci pintunya dari dalam. Seketika, api semakin menyebar, berkobar-kobar di kepalaku.
Tetapi, Aku takkan menyebut cintaku padanya sebagai sesuatu yg busuk. Jadi aku tidak akan menggunakan peribahasa 'sebaik-baiknya menyembunyikan bangkai akan tercium juga'. Cinta tak pernah busuk. Walau lahir dari cinta yang lain, cinta tak pernah busuk.
Dari tempat persembunyianku, aku setengah mati melawan perasaan asing yg melanda; Sebuah kesadaran baru menohok dadaku dengan kejam. Tak ada lagi kita. Hanya ada aku, aku dan kalian. Gelombang kesadaran itu seolah ingin membunuhku.
Lima tahun dua bulan. Kira-kira, berapa kardus barang kenangan yg bisa dihasilkan dalam waktu lima tahun dua bulan?
Kumpulan potongan karcis bioskop, tiket konser, karcis kereta, surat cinta, sms, boneka, bungkus coklat, Mawar kering yang yang diselipkan di antara lembaran buku, t-shirt pasangan yg kesepian karena pasangannya ada dalam lemarinya, Dan Scrapbook berisi foto-foto selama lima tahun dua bulan.
"Kini kita berada di jalur yang berlawanan arah, kita sudah menginginkan hal yg berbeda, kita tidak bisa bersama lagi."
Susah payah kutanamkan konsep itu di kepalaku agar setidaknya aku bisa menerima keputusannya. Kepalaku bisa menerima, tapi tidak hatiku. Kini aku berdiri di hadapan api yg siap melalap apapun yg ia sentuh. Bunyi perciknya menghajar kayu dan plastik terdengar berdesis, Kadang warna merahnya berpendar biru saat menyentuh senyawa tertentu. Di kanan kiriku, kardus berisi benda-benda kenangan.
Aku siap melepaskan semuanya. Aku siap melempar semua ke dalam api. Potongan-potongan tiket ini, foto-foto ini, dan bahkan, ingatan ini. Satu demi satu benda kenangan itu habis dilalap api, semua berubah jadi abu.
Tapi Tuhan, bagaimana membakar ingatan yg berada di dalam sini, dan sini? Tanyaku sambil menunjuk kepala dan hatiku.
Kemudian, Bayangan memeluk pinggang diatas motor itu kembali menguji kesabaranku. Gambar itu menari seolah ingin mengejekku. Aku, yang ditinggalkan, yang tidak diperkenankan lagi masuk pintu hatinya. Seseorang menetap disana, mengunci pintunya dari dalam. Seketika, api semakin menyebar, berkobar-kobar di kepalaku.
Tetapi, Aku takkan menyebut cintaku padanya sebagai sesuatu yg busuk. Jadi aku tidak akan menggunakan peribahasa 'sebaik-baiknya menyembunyikan bangkai akan tercium juga'. Cinta tak pernah busuk. Walau lahir dari cinta yang lain, cinta tak pernah busuk.
Senin, 10 Januari 2011
Surat Yang Tak Pernah Sampai
Suratmu itu tidak akan pernah terkirim, karena sebenarnya kamu hanya ingin berbicara pada dirimu sendiri. Kamu ingin berdiskusi dengan angin, dengan wangi sebelas tangkai sedap malam yang kamu beli dari tukang bunga berwajah memelas, dengan nyamuk-nyamuk yang cari makan, dengan malam, dengan detik jam… tentang dia.
Dia, yang tidak pernah kamu mengerti. Dia, racun yang membunuhmu perlahan. Dia, yang kamu reka dan kamu cipta.
Sebelah darimu menginginkan agar dia datang, membencimu hingga muak dia mendekati gila, menertawakan segala kebodohannya, kekhilafannya untuk sampai jatuh hati padamu, menyesalkan magis yang hadir naluriah setiap kali kalian berjumpa. Akan kamu kirimkan lagi tiket bioskop, bon restoran, semua tulisannya--dari mulai nota sebaris sampai doa berbait-bait. Dan beceklah pipinya karena geli, karena asap dan abu dari benda-benda yang ia hanguskan—bukti-bukti bahwa kalian pernah saling tergila-gila—berterbangan masuk ke matanya. Semoga ia pergi dan tak pernah menoleh lagi. Hidupmu, hidupnya, pasti akan lebih mudah.
Tapi, sebelah dari kamu menginginkan agar dia datang, menjemputmu, mengamini kalian, dan untuk kesekian kali, jatuh hati lagi, segila-gilanya, sampai batas gila dan waras pupus dalam kesadaran murni akan Cinta. Kemudian mendamparkan dirilah kalian di sebuah alam tak dikenal untuk membaca ulang semua kalimat, mengenang setiap inci perjalanan, perjuangan, dan ketabahan hati. Betapa sebelah darimu percaya bahwa setetes air mata pun akan terhitung, tak ada yang mengalir mubazir, segalanya pasti bermuara di satu samudra tak terbatas, lautan merdeka yang bersanding sejajar dengan cakrawala.. dan itulah tujuan kalian.
Kalau saja hidup tidak ber-evolusi, kalau saja sebuah momen dapat selamanya menjadi fosil tanpa terganggu, kalau saja kekuatan kosmik mampu stagnan di satu titik, maka… tanpa ragu kamu akan memilih satu detik bersamanya untuk diabadikan. Cukup satu.
Satu detik yang segenap keberadaannya di persembahkan untuk bersamamu, dan bukan dengan ribuan hal lain yang menanti untuk dilirik pada detik berikutnya. Betapa kamu rela membatu untuk itu.
Tapi, hidup ini cair. Semesta ini bergerak. Realitas berubah. Seluruh simpul dari kesadaran kita berkembang mekar. Hidup akan mengikis apa saja yang memilih diam, memaksa kita untuk mengikuti arus agungnya yang jujur tetapi penuh rahasia, kamu, tidak terkecuali
Kamu takut.
Kamu takut karena ingin jujur. Dan kejujuran menyudutkanmu untuk mengakui kamu mulai ragu.
Dialah bagian terbesar dalam hidupmu, tapi karena cemas. Kata ‘sejarah’ mulai menggantung hati-hati di atas sana. Sejarah kalian. Konsep itu menakutkan sekali.
Sejarah memiliki tampuk istimewa dalam hidup manusia, tapi tidak lagi melekat utuh pada realitas. Sejenak seperti awan yang tampak padat berisi tapi ketika disentuh menjadi embun yang rapuh.
Skenario perjalanan kalian mengharuskanmu untuk sering menyejarahkannya, merekamnya, lalu memainkannya ulang di kepalamu sebagai Sang Kekasih Impian, Sang tujuan, Sang Inspirasi bagi segala mahakarya yang termunthakan kedunia. Sementara dalam setiap detik yang berjalan, kalian seperti musafir yang tersesat di padang. Berjalan dengan kompas masing-masing, tanpa ada usaha saling mencocokkan. Sesekali kalian bertemu, berusaha saling toleransi atas nama Cinta dan Perjuangan yang Tidak Boleh Sia-sia. Kamu sudah membayar mahal untuk perjalanan ini. Kamu pertaruhkan segalanya demi apa yang kamu rasa benar. Dan mencintainya menjadi kebenaran tertinggimu.
Lama baru kamu menyadari bahwa Pengalaman merupakan bagian tak terpisahkan dari hubungan yang diikat oleh seutas perasaan mutual.
Lama bagi kamu untuk berani menoleh ke belakang, menghitung, berapa banyakkah pengalaman nyata yang kalian alami bersama?
Sebuah hubungan yang dibiarkan tumbuh tanpa keteraturan akan menjadi hantu yang tidak menjejak bumi, dan alasan cinta yang tadinya diagungkan bisa berubah menjadi utang moral, investasi waktu, perasaan, serta perdagangan kalkulatif antara dua pihak.
Cinta butuh dipelihara. Bahwa di dalam sepak-terjangnya yang serba mengejutkan, cinta ternyata masih butuh mekanisme agar mampu bertahan.
Cinta jangan selalu ditempatkan sebagai iming-iming besar, atau seperti ranjau yang tahu-tahu meledakkanmu—entah kapan dan kenapa. Cinta yang sudah dipilih sebaiknya diikutkan di setiap langkah kaki, merekatkan jemari, dan berjalanlah kalian bergandengan… karena cinta adalah mengalami.
Cinta tidak hanya pikiran dan kenangan. Lebih besar, cinta adalah dia dan kamu. Interaksi. Perkembangan dua manusia yang terpantau agar tetap harmonis. Karena cinta pun hidup dan bukan cuma maskot untuk di sembah sujud.
Kamu ingin berhenti memencet tombol tunda. Kamu ingin berhenti menyumbat denyut alami denyut alami hidup dan membiarkannya bergulir tanpa beban.
Dan kamu tahu, itulah yang tidak bisa dia berikan kini.
Hingga akhirnya…
Di meja itu, kamu di kelilingi tulisan tangannya yang tersisa (kamu baru sadar betapa tidak adilnya ini semua, kenapa harus kamu yang kebagian tugas dokumentasi dan arsip, sehingga cuma kamulah yang tersiksa?).
Jangan heran kalau kamu menangis sejadi-jadinya.
Dia, yang tidak pernah menyimpan gambar rupamu, pasti tidak tahu apa rasanya menatap lekat-lekat satu sosok, membayangkan rasa sentuh dari helai rambut yang polos tanpa busa pengeras, rasa hangat uap tubuh yang kamu hafal betul temperaturnya.
Dan kamu hanya bisa berbagi kesedihan itu, ketidakrelaan itu, kelemahan itu, dengan wangi bunga yang melangu, dengan nyamuk-nyamuk yang putus asa, dengan malam yang pasrah di gusur pagi, dengan detik jam dinding yang gagu karena habis daya.
Sampai pada halaman kedua suratmu, kamu yakin dia akan paham, atau setidaknya setengah memahami, betapa sulitnya perpisahan yang dilakukan sendirian.
Tidak ada sepasang mata lain yang mampu meyakinkanmu bahwa ini memang sudah usai. Tidak ada kata, peluk, cium, atau langkah kaki beranjak pergi, yang mampu menjadi penanda dramatis bahwa sebuah akhir telah diputuskan bersama.
Atau sebaliknya, tidak ada sergahan yang membuatmu berubah pikiran, tidak ada kata ‘jangan’ yang mungkin, apabila di ucapkan dan ditindakkan dengan tepat, akan membuatmu menghambur kembali dan tak mau pergi lagi.
Kamu pun tersadar, itulah perpisahan paling sepi yang pernah kamu alami.
Ketika surat itu tiba di titiknya yang terakhir, masih akan nada sejumput kamu yang bertengger tak mau pergi dari perbatasan usai dan tidak usai. Bagian dari dirimu yang merasa paling bertanggung jawab atas semua yang sudah kalian bayarkan bersama demi mengalami perjalanan hati sedahsyat itu. Dirimu yang mini, tapi keras kepala, memilih untuk tidak ikut pergi bersama yang lain, menetap untuk terus menemani sejarah. Dan karena waktu semakin larut, tenagamu pun sudah menyurut, maka kamu akan membiarkan si kecil itu bertahan semaunya.
Mungkin, suatu saat, apabila sekelumit dirimu itu mulai kesepian dan bosan, ia akan berteriak-teriak ingin pulang. Dan kamu akan menjemputnya, lalu membiarkan sejarah membentengi dirinya dengan tembok tebal yang tak lagi bisa ditembus. Atau mungkin, ketika sebuah keajaiban mampu menguak kekeruhan ini, jadilah ia semacam mercusuar, kompas, Bintang Selatan… yang menunjukkan jalan pulang bagi hatimu untuk, akhirnya, menemuiku.
Aku, yang merasakan apa yang kau rasakan. Yang mendamba untuk mengalami. Aku, yang telah menuliskan surat-surat cinta padamu. Surat-surat yang tak pernah sampai.
Minggu, 26 Desember 2010
Bukan Pasar Malam
Dari buku harian Maria, suatu malam, ketika dia tak punya keberanian untuk berjalan-jalan, untuk hidup, atau untuk terus menunggu telepon yang tak pernah berdering..
Sepanjang hari ini kuhabiskan di luar pasar malam. Berhubung aku tidak bisa menghambur-hamburkan uang begitu saja, kupikir sebaiknya aku sekadar memandangi orang-orang. Lama aku berdiri dekat roller-coaster, dan kuperhatikan kebanyakan orang naik wahana itu karena ingin merasakan debar-debarnya, tapi begitu roller-coaster-nya mulai bergerak, mereka ketakutan dan ingin wahana itu berhenti.
Sebenarnya apa yang mereka harapkan? Mereka sudah memilih petualangan itu, jadi seharusnya mereka siap menjalaninya sampai selesai, bukan? Atau mereka pikir orang pintar seharusnya menghindari wahana yang naik-turun seperti itu dan sebaiknya naik kincir raksasa saja yang terus dan terus berputar di situ-situ juga?
Saat ini aku merasa sangat kesepian dan tak bisa berpikir tentang cinta, tapi aku harus percaya bahwa cinta akan datang, bahwa aku akan mendapatkan keberhasilan, dan bahwa aku ada disini karena aku sendiri telah memilih jalan ini. Roller-coaster inilah hidupku; hidup adalah permainan yang berdesing cepat memabukkan; hidup adalah petualangan terjun dengan parasut; berani mendaki hingga puncak; punya keinginan untuk memaksimalkan diri, bisa merasa marah dan tidak puas saat kau gagal melakukannya.
Berat bagiku berada jauh dari keluarga, dari bahasa yang bisa menjadi saranaku mengekspresikan perasaan-perasaan dan emosi-emosiku, tapi mulai saat ini, setiap kali aku merasa tertekan, aku akan ingat pasar malam ini. Seandainya aku tertidur dan sekonyong-konyong mendapati diriku berada di sebuah roller-coaster saat aku terjaga, bagaimana perasaanku?
Yah, aku akan merasa terperangkap dan mual, takut di setiap belokan, ingin turun. Tapi kalau aku percaya bahwa rel-rel itu adalah takdirku dan Tuhan sendiri yang menjaga mesinnya, maka mimpi buruk itu akan berubah menjadi sesuatu yang mendebarkan. Roller-coaster itu sekadar roller-coaster, mainan yang aman dan bisa dipercaya, yang pada akhirnya akan berhenti, tapi sementara dalam perjalanan, aku mesti melihat pemandangan sekitarku dan berseru-seru gembira.
Sepanjang hari ini kuhabiskan di luar pasar malam. Berhubung aku tidak bisa menghambur-hamburkan uang begitu saja, kupikir sebaiknya aku sekadar memandangi orang-orang. Lama aku berdiri dekat roller-coaster, dan kuperhatikan kebanyakan orang naik wahana itu karena ingin merasakan debar-debarnya, tapi begitu roller-coaster-nya mulai bergerak, mereka ketakutan dan ingin wahana itu berhenti.
Sebenarnya apa yang mereka harapkan? Mereka sudah memilih petualangan itu, jadi seharusnya mereka siap menjalaninya sampai selesai, bukan? Atau mereka pikir orang pintar seharusnya menghindari wahana yang naik-turun seperti itu dan sebaiknya naik kincir raksasa saja yang terus dan terus berputar di situ-situ juga?
Saat ini aku merasa sangat kesepian dan tak bisa berpikir tentang cinta, tapi aku harus percaya bahwa cinta akan datang, bahwa aku akan mendapatkan keberhasilan, dan bahwa aku ada disini karena aku sendiri telah memilih jalan ini. Roller-coaster inilah hidupku; hidup adalah permainan yang berdesing cepat memabukkan; hidup adalah petualangan terjun dengan parasut; berani mendaki hingga puncak; punya keinginan untuk memaksimalkan diri, bisa merasa marah dan tidak puas saat kau gagal melakukannya.
Berat bagiku berada jauh dari keluarga, dari bahasa yang bisa menjadi saranaku mengekspresikan perasaan-perasaan dan emosi-emosiku, tapi mulai saat ini, setiap kali aku merasa tertekan, aku akan ingat pasar malam ini. Seandainya aku tertidur dan sekonyong-konyong mendapati diriku berada di sebuah roller-coaster saat aku terjaga, bagaimana perasaanku?
Yah, aku akan merasa terperangkap dan mual, takut di setiap belokan, ingin turun. Tapi kalau aku percaya bahwa rel-rel itu adalah takdirku dan Tuhan sendiri yang menjaga mesinnya, maka mimpi buruk itu akan berubah menjadi sesuatu yang mendebarkan. Roller-coaster itu sekadar roller-coaster, mainan yang aman dan bisa dipercaya, yang pada akhirnya akan berhenti, tapi sementara dalam perjalanan, aku mesti melihat pemandangan sekitarku dan berseru-seru gembira.
Kamis, 25 November 2010
Tidak Ada Hati Malam Ini
Enam puluh lima tahun setelah kemerdekaan tercapai, kenyataan menunjukkan bahwa kita masih jauh dari tujuan. Kita melihat dengan penuh kecemasan bahwa pimpinan negara dan pemerintahan sekarang ini telah membawa bangsa dan negara Indonesia kepada keadaan yang amat mengkhawatirkan.
Diktator perseorangan dan golongan yang berkuasa bukan lagi merupakan bahaya di ambang pintu, tetapi telah menjadi suatu kenyataan. Cara-cara kebijaksanaan negara dan pemerintahan bukan saja bertentangan dengan asas-asas kerakyatan dan hikmah musyawarah, bahkan menindas dan memperkosanya.
Jelaslah sudah bagi kita, bahwa istilah "demokrasi" dipakai sebagai topeng belaka justru untuk menindas dan menumpaskan asas-asas demokrasi sendiri... Tiba saatnya bagi segenap patriot Indonesia untuk bangkit menggalang kekuatan dan bertindak menyelamatkan bangsa dan negara Indonesia dari jurang malapetaka... MERDEKA!!!!!
Diktator perseorangan dan golongan yang berkuasa bukan lagi merupakan bahaya di ambang pintu, tetapi telah menjadi suatu kenyataan. Cara-cara kebijaksanaan negara dan pemerintahan bukan saja bertentangan dengan asas-asas kerakyatan dan hikmah musyawarah, bahkan menindas dan memperkosanya.
Jelaslah sudah bagi kita, bahwa istilah "demokrasi" dipakai sebagai topeng belaka justru untuk menindas dan menumpaskan asas-asas demokrasi sendiri... Tiba saatnya bagi segenap patriot Indonesia untuk bangkit menggalang kekuatan dan bertindak menyelamatkan bangsa dan negara Indonesia dari jurang malapetaka... MERDEKA!!!!!
Sabtu, 20 November 2010
Untuk Wanita yang (pernah) memelihara naga di kepalanya.
Sekarang pukul 01.30 pagi di tempatmu.
Kulit wajahmu pasti sedang terlipat diantara kerutan sarung bantal. Rambutmu yang tebal menumpuk disisi kanan, karena engkau tidur terlungkup dengan muka menghadap kiri. Tanganmu selalu tampak menggapai, apakah itu yang selalu kau cari dibawah bantal?
Aku selalu ingin mencuri waktumu. Menyita perhatianmu. Semata-mata supaya aku bisa terpilin masuk kedalam lipatan seprai tempat tubuhmu sekarang terbaring.
Sudah hampir empat tahun aku begini. Empat puluh bulan. Kalikan tiga puluh. Kalikan dua puluh empat. Kalikan enam puluh. Kalikan lagi enam puluh. Kalikan lagi enam puluh. Niscaya akan kau dapatkan angka ini: 6.220.800.000
Itulah banyaknya milisekon sejak pertama aku jatuh cinta kepadamu. Angka itu bisa lebih fantastis kalau ditarik sampai skala nano. Silakan cek. Dan aku berani jamin engkau masih ada di situ. Di tiap inti detik, dan di dalamnya lagi, dan lagi, dan lagi...
Penunjuk waktu ku tak perlu mahal-mahal. Memandangmu memberikanku sensasi keabadian sekaligus mortalitas. Rolex tak mampu berikan itu.
Mengertilah, tulisan ini bukan bertujuan untuk merayu. Kejujuran sudah seperti riasan wajah yang menor, tak terbayang menambahinya lagi dengan rayuan. Angka miliaran tadi adalah fakta matematis. Empiris. Siapa bilang cinta tak bisa logis. Cinta mampu merambah dimensi angka dan rasa sekaligus.
Sekarang pukul 02.30 di tempatmu. Tak terasa sudah satu jam aku disini. Menyumbangkan lagi 216.000 milisekon ke dalam rekening waktuku. Terima kasih. Aku semakin kaya saja. Andaikan bisa kutambahkan satuan rupiah, atau lebih baik lagi, dolar, dibelakangnya. Tapi engkau tak ternilai. Engkau adalah pangkal, ujung, dan segalanya yang di tengah-tengah. Sensasi Ilahi. Tidak dolar, tak juga yen, mampu menyajikannya.
Aku tak pernah tahu keadaan tempat tidurmu. Bukan aku yang sering ada disitu. Entah siapa. Mungkin cuma guling atau bantal-bantal ekstra. Terkadang benda-benda mati justru mendapatkan apa yang paling kita inginkan, dan tak sanggup kita bersaing dengannya. Aku iri pada baju tidurmu, handukmu, apalagi pada guling... sudah. Stop. Aku tak sanggup melanjutkan. membayangkan saja ngeri. Apa rasanya dipeluk dan di dekap tanpa pretensi? Itulah surga. Dan manusia perlu beribadah jungkir-balik untuk mendapatkannya? Hidup memang bagaikan mengitari gunung Sinai. Tak diizinkannya kita untuk berjalan lurus-lurus saja demi mencapai tanah Perjanjian.
Kini, izinkan aku tidur. Menyusulmu ke alam abstrak di mana segalanya bisa bertemu. Pastikan kau ada di sana, tidak terbangun karena ingin pipis, atau mimpi buruk. Tunggu aku.
Begitu banyak yang ingin aku bicarakan. Mari kita piknik, mandi susu, potong tumpeng, main pasir, adu jangkrik, balap karung, melipat kertas, naik getek, tarik tambang.. tak ada yang tidak bisa kita lakukan, bukan?
Tapi kalau boleh memilih satu: aku ingin mimpi tidur di sebelahmu. Ada tanganku di bawah bantal, tempat jemarimu menggapai-gapai.
Tidurku meringkuk ke sebelah kanan sehingga wajah kita berhadapan. Dan ketika matamu terbuka nanti, ada aku disana. Rambutku yang berdiri liar dan wajahmu yang tercetak kerut seprai.
Tiada yang lebih indah dari cinta dua orang di pagi hari. Dengan muka berkilap, bau keringat, gigi bermentega, dan mulut asam... mereka masih berani tersenyum dan saling menyapa 'selamat pagi'.
Kulit wajahmu pasti sedang terlipat diantara kerutan sarung bantal. Rambutmu yang tebal menumpuk disisi kanan, karena engkau tidur terlungkup dengan muka menghadap kiri. Tanganmu selalu tampak menggapai, apakah itu yang selalu kau cari dibawah bantal?
Aku selalu ingin mencuri waktumu. Menyita perhatianmu. Semata-mata supaya aku bisa terpilin masuk kedalam lipatan seprai tempat tubuhmu sekarang terbaring.
Sudah hampir empat tahun aku begini. Empat puluh bulan. Kalikan tiga puluh. Kalikan dua puluh empat. Kalikan enam puluh. Kalikan lagi enam puluh. Kalikan lagi enam puluh. Niscaya akan kau dapatkan angka ini: 6.220.800.000
Itulah banyaknya milisekon sejak pertama aku jatuh cinta kepadamu. Angka itu bisa lebih fantastis kalau ditarik sampai skala nano. Silakan cek. Dan aku berani jamin engkau masih ada di situ. Di tiap inti detik, dan di dalamnya lagi, dan lagi, dan lagi...
Penunjuk waktu ku tak perlu mahal-mahal. Memandangmu memberikanku sensasi keabadian sekaligus mortalitas. Rolex tak mampu berikan itu.
Mengertilah, tulisan ini bukan bertujuan untuk merayu. Kejujuran sudah seperti riasan wajah yang menor, tak terbayang menambahinya lagi dengan rayuan. Angka miliaran tadi adalah fakta matematis. Empiris. Siapa bilang cinta tak bisa logis. Cinta mampu merambah dimensi angka dan rasa sekaligus.
Sekarang pukul 02.30 di tempatmu. Tak terasa sudah satu jam aku disini. Menyumbangkan lagi 216.000 milisekon ke dalam rekening waktuku. Terima kasih. Aku semakin kaya saja. Andaikan bisa kutambahkan satuan rupiah, atau lebih baik lagi, dolar, dibelakangnya. Tapi engkau tak ternilai. Engkau adalah pangkal, ujung, dan segalanya yang di tengah-tengah. Sensasi Ilahi. Tidak dolar, tak juga yen, mampu menyajikannya.
Aku tak pernah tahu keadaan tempat tidurmu. Bukan aku yang sering ada disitu. Entah siapa. Mungkin cuma guling atau bantal-bantal ekstra. Terkadang benda-benda mati justru mendapatkan apa yang paling kita inginkan, dan tak sanggup kita bersaing dengannya. Aku iri pada baju tidurmu, handukmu, apalagi pada guling... sudah. Stop. Aku tak sanggup melanjutkan. membayangkan saja ngeri. Apa rasanya dipeluk dan di dekap tanpa pretensi? Itulah surga. Dan manusia perlu beribadah jungkir-balik untuk mendapatkannya? Hidup memang bagaikan mengitari gunung Sinai. Tak diizinkannya kita untuk berjalan lurus-lurus saja demi mencapai tanah Perjanjian.
Kini, izinkan aku tidur. Menyusulmu ke alam abstrak di mana segalanya bisa bertemu. Pastikan kau ada di sana, tidak terbangun karena ingin pipis, atau mimpi buruk. Tunggu aku.
Begitu banyak yang ingin aku bicarakan. Mari kita piknik, mandi susu, potong tumpeng, main pasir, adu jangkrik, balap karung, melipat kertas, naik getek, tarik tambang.. tak ada yang tidak bisa kita lakukan, bukan?
Tapi kalau boleh memilih satu: aku ingin mimpi tidur di sebelahmu. Ada tanganku di bawah bantal, tempat jemarimu menggapai-gapai.
Tidurku meringkuk ke sebelah kanan sehingga wajah kita berhadapan. Dan ketika matamu terbuka nanti, ada aku disana. Rambutku yang berdiri liar dan wajahmu yang tercetak kerut seprai.
Tiada yang lebih indah dari cinta dua orang di pagi hari. Dengan muka berkilap, bau keringat, gigi bermentega, dan mulut asam... mereka masih berani tersenyum dan saling menyapa 'selamat pagi'.
Rabu, 17 November 2010
11 minutes
Alkisah, dulu ada seekor burung jantan yang tampan. Dia punya sepasang sayap yang indah dan tubuhnya berhias bulu beraneka warna yang halus mengilat. Pendeknya, dia diciptakan untuk terbang bebas dilangit biru dan memberi rasa bahagia pada semua makhluk yang memandanginya.
Pada suatu hari, seorang perempuan melihat burung itu dan langsung jatuh hati padanya. Mulutnya menganga penuh kekaguman saat memandangi burung itu terbang membelah langit, jantungnya berdegup kencang, matanya berbinar-binar penuh harap. Dia meminta burung itu membawanya terbang, dan keduanya menari dengan serasi di angkasa. Dia sungguh mengagumi dan memuja burung itu.
Sempat terlintas di benak perempuan itu: Mungkin burung itu ingin berkelana ke puncak-puncak gunung yang jauh! Seketika hatinya risau dan cemas, khawatir hatinya tak mungkin jatuh kepada burung lain. Dan dia merasa sungguh iri, mengapa dia tidak bisa terbang bebas sebagaimana burung pujaannya itu.
Dan dia merasa sangat kesepian.
Lalu dia berpikir: "Akan kubuat sebuah jebakan. Jika burung itu muncul lagi, dia akan terjebak dan tak bisa pergi lagi."
Si burung yang ternyata juga jatuh cinta kepada perempuan itu datang keesokan harinya, terpikat masuk kedalam jebakan, dan akhirnya dikurung oleh perempuan itu.
Dengan puas hati perempuan itu memandangi burung pujaannya setiap hari. Akhirnya dia mendapatkan objek tempat dia menumpahkan segala luapan nafsunya, dan tidak lupa dia memamerkan burung itu kepada teman-temannya yang tak henti-heninya memuji: "kini kau telah mendapatkan segala sesuatu yang kau inginkan."
Namun kini terjadi perubahan yang aneh: karena burung itu telah mutlak dikuasainya dan dia tak perlu merayu dan memikatnya lagi, akhirnya dia tak lagi tertarik kepadanya. Dan si burung yang tak kuasa terbang dan mengungkapkan makna hidupnya yang sejati mulai merana; bulunya yang indah mengilat berubah kusam, dan makhluk penuh pesona itu berubah menjadi buruk rupa, dan perempuan itu semakin lama semakin tak menghiraukan dia, kecuali memberinya makan dan minum serta membersihkan kandangnya.
Pada suatu hari burung yang merana itu mati. Perempuan itu sangat bersedih, dan setiap hari menghabiskan waktunya untuk mengenang si burung. Tapi dia tak lagi hirau pada kandang burung itu--dia hanya teringat saat pertama kali melihat si burung yang mengepakkan sayapnya dengan penuh keyakinan diri di sela-sela awan.
Seandainya dia bisa becermin pada kalbunya yang paling dalam, dia akan insaf bahwa pesona terbesar makhluk berbulu itu adalah kebebasannya, keperkasaan kepak sayapnya, dan bukan sosoknya yang rupawan.
Tanpa kehadiran burung itu, hidupnya berubah hampa dan sepi makna, hingga suatu saat datang maut menjemputnya . "mengapa kau datang kemari?" tanya perempuan itu. "kujelang dirimu agar kau dapat kembali terbang bersamanya ke langit," jawab maut. "kalau saja dulu kaubiarkan dia bebas datang dan pergi, tentu akan semakin besar cinta dan kekagumanmu padanya; dan aku tak perlu datang untuk membawamu kepadanya."
Pada suatu hari, seorang perempuan melihat burung itu dan langsung jatuh hati padanya. Mulutnya menganga penuh kekaguman saat memandangi burung itu terbang membelah langit, jantungnya berdegup kencang, matanya berbinar-binar penuh harap. Dia meminta burung itu membawanya terbang, dan keduanya menari dengan serasi di angkasa. Dia sungguh mengagumi dan memuja burung itu.
Sempat terlintas di benak perempuan itu: Mungkin burung itu ingin berkelana ke puncak-puncak gunung yang jauh! Seketika hatinya risau dan cemas, khawatir hatinya tak mungkin jatuh kepada burung lain. Dan dia merasa sungguh iri, mengapa dia tidak bisa terbang bebas sebagaimana burung pujaannya itu.
Dan dia merasa sangat kesepian.
Lalu dia berpikir: "Akan kubuat sebuah jebakan. Jika burung itu muncul lagi, dia akan terjebak dan tak bisa pergi lagi."
Si burung yang ternyata juga jatuh cinta kepada perempuan itu datang keesokan harinya, terpikat masuk kedalam jebakan, dan akhirnya dikurung oleh perempuan itu.
Dengan puas hati perempuan itu memandangi burung pujaannya setiap hari. Akhirnya dia mendapatkan objek tempat dia menumpahkan segala luapan nafsunya, dan tidak lupa dia memamerkan burung itu kepada teman-temannya yang tak henti-heninya memuji: "kini kau telah mendapatkan segala sesuatu yang kau inginkan."
Namun kini terjadi perubahan yang aneh: karena burung itu telah mutlak dikuasainya dan dia tak perlu merayu dan memikatnya lagi, akhirnya dia tak lagi tertarik kepadanya. Dan si burung yang tak kuasa terbang dan mengungkapkan makna hidupnya yang sejati mulai merana; bulunya yang indah mengilat berubah kusam, dan makhluk penuh pesona itu berubah menjadi buruk rupa, dan perempuan itu semakin lama semakin tak menghiraukan dia, kecuali memberinya makan dan minum serta membersihkan kandangnya.
Pada suatu hari burung yang merana itu mati. Perempuan itu sangat bersedih, dan setiap hari menghabiskan waktunya untuk mengenang si burung. Tapi dia tak lagi hirau pada kandang burung itu--dia hanya teringat saat pertama kali melihat si burung yang mengepakkan sayapnya dengan penuh keyakinan diri di sela-sela awan.
Seandainya dia bisa becermin pada kalbunya yang paling dalam, dia akan insaf bahwa pesona terbesar makhluk berbulu itu adalah kebebasannya, keperkasaan kepak sayapnya, dan bukan sosoknya yang rupawan.
Tanpa kehadiran burung itu, hidupnya berubah hampa dan sepi makna, hingga suatu saat datang maut menjemputnya . "mengapa kau datang kemari?" tanya perempuan itu. "kujelang dirimu agar kau dapat kembali terbang bersamanya ke langit," jawab maut. "kalau saja dulu kaubiarkan dia bebas datang dan pergi, tentu akan semakin besar cinta dan kekagumanmu padanya; dan aku tak perlu datang untuk membawamu kepadanya."
Jumat, 05 November 2010
Petir yang menggelegarkan kecewa...
Mungkin kau tidak tahu aku menderita setiap hari. Sudah berbulan-bulan sampai sekarang, mencoba menunjukkan padamu betapa besarnya cintaku padamu, bahwa segala sesuatu baru terasa penting bila kau ada di sisiku. Tapi Sekarang, entah aku menderita atau tidak, aku telah memutuskan bahwa sudah cukuplah semua ini. Semua sudah berakhir. Aku lelah. Setelah malam ini kuhentikan perlawananku dan kukatakan pada pada dirku: kalau pukulan terakhir itu datang, biarlah ia datang. Pukulan bisa menjatuhkan aku ke kanvas, pukulan itu bisa membuatku KO, tapi suatu hari nanti aku akan pulih.
Aku tidak bisa kembali; bagaimanapun aku harus maju terus, kalau tidak aku akan hilang di tengah lautan; di titik itu, berbagai skenario menakutkan muncul bergantian di benakku, misalnya menghabiskan sisa hidupku bicara tentang sukses-suksesku yang lampau. Jadi, aku harus terus sampai ajalku tiba, tak boleh membiarkan diriku terperangkap dalam kesuksesan maupun kegagalan. Kalau tidak begitu, apalah arti hidupku? Menarik diri dari dunia dengan cara misterius dan penuh perhitungan untuk menciptakan legenda yang akan menjauhkanku dari kesenangan hidup?
Terguncang dengan pikiran-pikiran mengerikan itu, terbangkitlah kekuatan dan keberanian yang tadinya kukira tak kumilikki; kekuatan dan keberanian itu membantuku menjelajahi pelosok-pelosok jiwaku yang belum kukenal. Kubiarkan arus menyeretku, dan akhirnya kubuang suah perahuku di sebuah pulau ke mana arus tersebut membawaku. Kuhabiskan berhari-hari dan bermalam-malam untuk menceritakan apa yang kulihat, sambil bertanya-tanya mengapa aku melakukan ini; kukatakan pada diriku sendiri bahwa ini tidak sesuai dengan usaha dan jerih payahku, bahwa aku tdak harus membuktikan apapun pada siapapun, bahwa aku telah memperoleh apa yang kuinginkan dan jauh melebihi semua impianku.
Aku percaya hidup ini sudah diatur. Kita tinggal melangkah. Sebingung dan sesakit apa pun, semua sudah disiapkan bagi kita. Kita tinggal merasakan saja. Iya, rasakan saja. Kita pasti tahu jawabannya. Begitu juga dengan dia. Tidak ada yang bisa memaksakan, apakah Dia memang untukku atau ... untuk orang lain.
Pada akhirnya, tidak ada yang bisa memaksa. Tidak juga janji, atau kesetiaan. Tidak ada. Sekalipun akhirnya dia memilih untuk tetap bersamaku, hatinya tidak bisa dipaksa oleh apa pun, oleh siapa pun.
Kalau tidak begini, aku akan selalu memintamu untuk mencintaiku. Semua yang kamu lakukan adalah karena aku meminta, carilah orang yang tidak perlu meminta apa-apa, tapi kamu mau memberikan segalanya.
Jumat, 22 Oktober 2010
Luka tak Berdarah
Nikmatilah kawan, Jangan Tunduk!!!! Tataplah mata mereka yang mengajarkan kita menjadi 'sadis'. Hukuman ini takkan membuat kita tertunduk apalagi mundur. karena kita dibesarkan bukan untuk mundur... Suatu saat kita akan menertawakan hari ini...
Kamis, 21 Oktober 2010
Batu yang Lemah
Beginilah laki-laki, jika ditantang membahas perasaannya.
Sambil menahan perih, aku menggeleng-geleng kepala.
Sekarang lihat, aku harus menyalahi diriku sendiri karena sebelum menemukannya, sudah kuhentikan permainannya.
Pasti ia sedang menertawai kepasrahanku didalam persembunyiannya, sambil terus menantang tingkat kejelianku terhadap isi perasaannya.
Memang dia begitu.
terlalu hebat dalam banyak teka-teki. Untuk menyama-ratakan kata-katanya dengan daya pikirku saja, aku kesulitan. Sampai-sampai untuk bisa mengerti arti tatapnya, harus kutanya lagi kepada Tuhan.
“Apa arti perpisahan hari ini?”
Lalu katanya : “Perpisahan hari ini beda. Didalamnya mengandung sebuah akad kontrak untuk pertemuan berikutnya, sampai kita menjadi sepasang yang siap untuk tidak dipisahkan siapa-siapa.”
Sial. Ku tahu benar siapa dia.
Mata ini tidak bisa menjelajah seluruh bumi untuk memantau kesungguhan kata hatinya. Jadi, apa perlunya perpisahan hari ini, jika memikirkan dirinya diluar sana adalah seperti menaruh kepalaku diatas bara. “Kau yang hebat, bukan aku.”
Senin,
Selasa,
Rabu,
Kamis,
Jumat,
Sabtu,
Minggu.
7 algojo yang siap memecut tubuhku didalam kesepian kala memandangmu dari jauh.
2011, mungkin aku terbunuh.
Tapi suatu hari nanti, keras batumu akan dibuat retak oleh tetes air mataku yang mulai jatuh sejak hari ini. Artinya, jangan sampai kau menyesal dikemudian hari, karena tidak lagi mudah untukmu menemukan siapa yang pantas jadi pengganti.
Sambil menahan perih, aku menggeleng-geleng kepala.
Sekarang lihat, aku harus menyalahi diriku sendiri karena sebelum menemukannya, sudah kuhentikan permainannya.
Pasti ia sedang menertawai kepasrahanku didalam persembunyiannya, sambil terus menantang tingkat kejelianku terhadap isi perasaannya.
Memang dia begitu.
terlalu hebat dalam banyak teka-teki. Untuk menyama-ratakan kata-katanya dengan daya pikirku saja, aku kesulitan. Sampai-sampai untuk bisa mengerti arti tatapnya, harus kutanya lagi kepada Tuhan.
“Apa arti perpisahan hari ini?”
Lalu katanya : “Perpisahan hari ini beda. Didalamnya mengandung sebuah akad kontrak untuk pertemuan berikutnya, sampai kita menjadi sepasang yang siap untuk tidak dipisahkan siapa-siapa.”
Sial. Ku tahu benar siapa dia.
Mata ini tidak bisa menjelajah seluruh bumi untuk memantau kesungguhan kata hatinya. Jadi, apa perlunya perpisahan hari ini, jika memikirkan dirinya diluar sana adalah seperti menaruh kepalaku diatas bara. “Kau yang hebat, bukan aku.”
Senin,
Selasa,
Rabu,
Kamis,
Jumat,
Sabtu,
Minggu.
7 algojo yang siap memecut tubuhku didalam kesepian kala memandangmu dari jauh.
2011, mungkin aku terbunuh.
Tapi suatu hari nanti, keras batumu akan dibuat retak oleh tetes air mataku yang mulai jatuh sejak hari ini. Artinya, jangan sampai kau menyesal dikemudian hari, karena tidak lagi mudah untukmu menemukan siapa yang pantas jadi pengganti.
Selasa, 19 Oktober 2010
Persahabatan lawan jenis
"Cinta yang timbul karena ketidaksengajaan.”
Itu alasan yang paling cetek untuk rasa cinta pada sahabat sendiri. Merasa cocok, nge-klop dan memiliki selera yang sepadan membuatmu terus berpikir tentang sebuah kemungkinan. Ditambah keperawakan sahabat yang menarik, keahliannya yang kau kagumi, akhirnya hatimu mencair oleh panasnya aura sahabat sendiri. Sayang, tema yang diangkat adalah “menahan rasa cemburu demi persahabatan.” Berarti ini berhubungan dengan rasa cinta yang sepatutnya dilarang. Mencemburui, bicara kau mutlak sebagai pemilik yang tidak rela miliknya dimiliki orang lain. Tapi jika keadaannya berbeda, yaitu kau mengingini yang tidak kau miliki padahal yang kau ingini sudah dimiliki, maka itu sudah mulai menyerempet kearah-arah iri. Berarti, sudah waktunya hati kembali dikoreksi.
Cuma sedikit kekasih yang mengantongi aib kekasihnya, menelan habis kekurangannya. Tetapi ada banyak sahabat yang sanggup akan hal itu. Pada dasarnya, jangan bilang kau sahabat jika kau belum mengantongi aib sahabatmu dan terus merahasiakannya. Jangan bilang kau sahabat jika kau belum menerima kekurangan sahabatmu dan tetap membanggakannya. Jangan bilang kau sahabat jika kau tidak menjadi bagian didalam kedukaannya, dan jangan bilang kau sahabat jika kau menciptakan kesedihan ditengah kebahagiaannya. Mutlak, kau adalah sahabat yang selalu sanggup memaafkannya.
Tetapi ini untungnya. Kau masih seorang sahabat, jika sebuah rahasia, kau mencintainya. Karena kalau sudah bicara cinta, berarti kau bicara kepada dirimu sendiri, yang notabene juga sahabatmu sendiri. Tetapi kadang cinta seringkali menang, melangkahi tempat terlarang tetapi tidak menghindar dari hukuman. Estetika memakan etika. Karena inilah indahnya :
“Sahabat adalah lebih daripada saudara sendiri. Tetapi kekasih yang dulu pernah jadi sahabat, melebihi keduanya.”
Siapa yang tidak mau?! ;)
Itu alasan yang paling cetek untuk rasa cinta pada sahabat sendiri. Merasa cocok, nge-klop dan memiliki selera yang sepadan membuatmu terus berpikir tentang sebuah kemungkinan. Ditambah keperawakan sahabat yang menarik, keahliannya yang kau kagumi, akhirnya hatimu mencair oleh panasnya aura sahabat sendiri. Sayang, tema yang diangkat adalah “menahan rasa cemburu demi persahabatan.” Berarti ini berhubungan dengan rasa cinta yang sepatutnya dilarang. Mencemburui, bicara kau mutlak sebagai pemilik yang tidak rela miliknya dimiliki orang lain. Tapi jika keadaannya berbeda, yaitu kau mengingini yang tidak kau miliki padahal yang kau ingini sudah dimiliki, maka itu sudah mulai menyerempet kearah-arah iri. Berarti, sudah waktunya hati kembali dikoreksi.
Cuma sedikit kekasih yang mengantongi aib kekasihnya, menelan habis kekurangannya. Tetapi ada banyak sahabat yang sanggup akan hal itu. Pada dasarnya, jangan bilang kau sahabat jika kau belum mengantongi aib sahabatmu dan terus merahasiakannya. Jangan bilang kau sahabat jika kau belum menerima kekurangan sahabatmu dan tetap membanggakannya. Jangan bilang kau sahabat jika kau tidak menjadi bagian didalam kedukaannya, dan jangan bilang kau sahabat jika kau menciptakan kesedihan ditengah kebahagiaannya. Mutlak, kau adalah sahabat yang selalu sanggup memaafkannya.
Tetapi ini untungnya. Kau masih seorang sahabat, jika sebuah rahasia, kau mencintainya. Karena kalau sudah bicara cinta, berarti kau bicara kepada dirimu sendiri, yang notabene juga sahabatmu sendiri. Tetapi kadang cinta seringkali menang, melangkahi tempat terlarang tetapi tidak menghindar dari hukuman. Estetika memakan etika. Karena inilah indahnya :
“Sahabat adalah lebih daripada saudara sendiri. Tetapi kekasih yang dulu pernah jadi sahabat, melebihi keduanya.”
Siapa yang tidak mau?! ;)
Bentuk perlawanan dalam diam
Tidak terasa kita sudah sampai disini.
Waktu yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Terasa begitu wajar kalau burung gereja masih berkicau diatap rumah ketika pagi, karena selalu salut menatap titian kita yang masih saja berusaha untuk tegap berdiri.
Maha, ternyata fakta ini tidak secuil senyum-senyum kecil.
Lihat saja cara mereka merealisasikan kekuatirannya! Aneh.
Kita diatur supaya melanggar, diikat supaya berontak dan diancam supaya melawan.
Bukankah itu sama dengan melatih ketangkasan kita untuk membasuh keringat, hari perharinya?
Sekarang bilang terima kasih kepada siapa saja yang menentang.
Karena mereka telah susah payah menyiapkan jalan untuk kita bisa menjadi semakin tak terkalahkan.
Waktu yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Terasa begitu wajar kalau burung gereja masih berkicau diatap rumah ketika pagi, karena selalu salut menatap titian kita yang masih saja berusaha untuk tegap berdiri.
Maha, ternyata fakta ini tidak secuil senyum-senyum kecil.
Lihat saja cara mereka merealisasikan kekuatirannya! Aneh.
Kita diatur supaya melanggar, diikat supaya berontak dan diancam supaya melawan.
Bukankah itu sama dengan melatih ketangkasan kita untuk membasuh keringat, hari perharinya?
Sekarang bilang terima kasih kepada siapa saja yang menentang.
Karena mereka telah susah payah menyiapkan jalan untuk kita bisa menjadi semakin tak terkalahkan.
Minggu, 17 Oktober 2010
Disini aku, dimana kau
Kekasih, terakhir kali kita masih kami, kita berada di bumi. Bumi adalah planet terindah di dunia bagiku saat itu. Walau bagaimanapun keadaanku.
Lalu kau pergi, hatimu menjauh. Jarak yang memisahkan kita kemanapun kau pergi, bagiku sangat dekat. Tapi saat hatimu berjarak, sedekat apapun itu, itu jauh sesungguhnya bagiku. Tak lagi ada kau untukku, maka bumi tidak lagi menjadi tempat terindah bagiku.
Semua suram, semua muram. Penghuni Bumi seakan menyindirku. Tak lama aku bertahan di bumi, jalanan yang sering kita lalui dulu, sudut kota tempat kita pernah berbagi senyum dulu, kursi rumah yang pernah kau duduki dulu, semua menyindirku, aku muak!. Lalu aku pergi dari Bumi yang tidak lagi bersahabat. Dengan emosiku saat itu, aku tak lagi ingin hidup lebih lama. Maka aku pindah ke Jupiter.
Kau tau?! Di Jupiter aku hanya harus melewati kurang dari 10 jam untuk satu harinya, dengan begitu mungkin waktu hidupku akan lebih cepat habis. Kulalui hari demi hari di Jupiter, sendiri. Masih saja aku mengingatmu, aku tak tau. Mungkin karena kita masih dekat, hanya terpisah satu Mars. Maka aku pergi dari Jupiter, semakin menjauhimu. Aku pindah ke Uranus. Entah apa saat itu kau masih mengingatku, tapi aku sangat ingin melupakanmu.
Aku pernah katakan padamu, kekasih. Kau tak akan pernah kehilanganku selama aku hidup, dan itu benar. Bukankah sering aku katakan itu?!
Mengingat itu, aku ingin kau merasakan sakitnya kehilangan. Tapi satu tahun di Uranus berarti 84 tahun di Bumi. Jadi bila kuhitung, kau pasti lebih dulu mati dariku, kau tak akan merasakan sakitnya kehilanganku. Maka aku kembali berpikir untuk pindah ke planet lain. Aku pindah ke Merkurius, satu tahun di Bumi, 88 hari di sana. Aku pasti lebih dulu mati darimu.
Pada hari kedua aku di tempat itu, aku menyadari, satu hari di sana terasa sangat lama, sama dengan 59 hari Bumi. Dan aku masih saja mengingatmu, apa aku harus mengingatmu 59 hari tiap harinya?!
Entahlah, kekasih, seakan tak ada gunanya aku berpindah-pindah. Saat itu aku terpikir untuk kembali ke Bumi, walau menyakitkan, tapi aku merindukanmu. Aku urungkan niatku kembali, aku tak ingin mengganggumu dengan adaku. Aku pindah ke Mars, lebih dekat dari Bumi, tempatmu. Mungkin aku bisa melihatmu dari sana.
Katanya di Mars ada tanda kehidupan, aku berharap, mungkin suatu saat kau akan mengunjungi Mars, walau dengan kekasihmu. Tiap malam kupandangi Bumi, bertanya-tanya apa yang sedang kau lakukan, apakah kau merasa kehilangan?! Aku sangat merindukanmu.
Aku menangis karena tak juga bisa melupakanmu, tak juga bisa berhenti mengharapkanmu, karena rinduku tak terhapuskan. Sedang kau, entahlah, apa yang sedang kau lakukan di Bumi?! Tidakkah kau teringat padaku tiap kali menghela udara Bumi?!
Kau yang tinggal di Bumi, tidakkah Bumi mengingatkanmu akanku?! Akan masa-masa saat kita bersama dulu, tidakkah menyakitimu?! Karena itu menyakitiku saat aku berada di Bumi. Aku bertanya-tanya sendiri, aku tidak lagi di Bumi, tapi masih saja teringat akanmu. Apa yang salah, apa yang membuatku tetap saja mengingatmu?!
Apa mungkin detak jantungku yang mengingatkanku akanmu?!
Ah, aku sadar. Ini memang detak jantung yang sama yang kupakai saat aku bersamamu dulu, saat juga kau bernafas di dekatku, karena itu aku tak bisa melupakanmu. Aku tersadar, mungkin selama detak jantungku masih berdetak seperti ini, aku tak akan pernah bisa melupakanmu. Bagaimana lagi, aku harus menyerah dengan usaha melupakanmu.
Maka dengan luluh lelahku aku menyerah. Aku pindah dari Mars, karena ternyata satu tahun di sana 687 hari Bumi. Kau pasti tetap lebih dulu mati, karena di Bumi hanya 365 hari setahun.
Maka di sinilah aku, sampai saat ini. Tidak jauh darimu, kau hanya tak tau. Aku berada di Venus saat ini. Di sini tidak terlalu nyaman. Ini mungkin tempat yang tepat bagiku, kekasih. Kau tau?! satu tahun di sini hanya 225 hari di Bumi. Aku pasti lebih dulu mati darimu. Tapi satu hari di sini, 243 hari di bumi. Sampai saat ini, dalam satu hari aku mengingatmu 243 kali lebih banyak dari di Bumi, bila kau ingin tau.
Mungkin karena berada di tempat ini, aku akan lebih dulu mati darimu, mungkin kau akan merasa kehilangan saat itu. Itupun bila kau tau, karena kau tak lagi melihatku. Itupun bila kau tau, karena aku tak tau bagaimana cara memberitaumu bila aku mati nanti. Walaupun aku tau, mungkin aku akan berpikir ribuan kali lebih dulu sejak aku mati apakah kau perlu tau dengan kematianku. Bagaimana mungkin aku rela menyakitimu dengan kehilanganku. Kau tak akan tau.
Aku di sini, kekasih, di Venus. Tiap hari, aku mencintaimu 243 kali lebih banyak dari saat dulu aku masih di Bumi. Lihat aku.
Ah iya, Venus adalah planet asal wanita, katanya. Tapi aku tak dapat melihat satupun wanita di sini, kekasih. Apa kau tau mengapa?!
Lalu kau pergi, hatimu menjauh. Jarak yang memisahkan kita kemanapun kau pergi, bagiku sangat dekat. Tapi saat hatimu berjarak, sedekat apapun itu, itu jauh sesungguhnya bagiku. Tak lagi ada kau untukku, maka bumi tidak lagi menjadi tempat terindah bagiku.
Semua suram, semua muram. Penghuni Bumi seakan menyindirku. Tak lama aku bertahan di bumi, jalanan yang sering kita lalui dulu, sudut kota tempat kita pernah berbagi senyum dulu, kursi rumah yang pernah kau duduki dulu, semua menyindirku, aku muak!. Lalu aku pergi dari Bumi yang tidak lagi bersahabat. Dengan emosiku saat itu, aku tak lagi ingin hidup lebih lama. Maka aku pindah ke Jupiter.
Kau tau?! Di Jupiter aku hanya harus melewati kurang dari 10 jam untuk satu harinya, dengan begitu mungkin waktu hidupku akan lebih cepat habis. Kulalui hari demi hari di Jupiter, sendiri. Masih saja aku mengingatmu, aku tak tau. Mungkin karena kita masih dekat, hanya terpisah satu Mars. Maka aku pergi dari Jupiter, semakin menjauhimu. Aku pindah ke Uranus. Entah apa saat itu kau masih mengingatku, tapi aku sangat ingin melupakanmu.
Aku pernah katakan padamu, kekasih. Kau tak akan pernah kehilanganku selama aku hidup, dan itu benar. Bukankah sering aku katakan itu?!
Mengingat itu, aku ingin kau merasakan sakitnya kehilangan. Tapi satu tahun di Uranus berarti 84 tahun di Bumi. Jadi bila kuhitung, kau pasti lebih dulu mati dariku, kau tak akan merasakan sakitnya kehilanganku. Maka aku kembali berpikir untuk pindah ke planet lain. Aku pindah ke Merkurius, satu tahun di Bumi, 88 hari di sana. Aku pasti lebih dulu mati darimu.
Pada hari kedua aku di tempat itu, aku menyadari, satu hari di sana terasa sangat lama, sama dengan 59 hari Bumi. Dan aku masih saja mengingatmu, apa aku harus mengingatmu 59 hari tiap harinya?!
Entahlah, kekasih, seakan tak ada gunanya aku berpindah-pindah. Saat itu aku terpikir untuk kembali ke Bumi, walau menyakitkan, tapi aku merindukanmu. Aku urungkan niatku kembali, aku tak ingin mengganggumu dengan adaku. Aku pindah ke Mars, lebih dekat dari Bumi, tempatmu. Mungkin aku bisa melihatmu dari sana.
Katanya di Mars ada tanda kehidupan, aku berharap, mungkin suatu saat kau akan mengunjungi Mars, walau dengan kekasihmu. Tiap malam kupandangi Bumi, bertanya-tanya apa yang sedang kau lakukan, apakah kau merasa kehilangan?! Aku sangat merindukanmu.
Aku menangis karena tak juga bisa melupakanmu, tak juga bisa berhenti mengharapkanmu, karena rinduku tak terhapuskan. Sedang kau, entahlah, apa yang sedang kau lakukan di Bumi?! Tidakkah kau teringat padaku tiap kali menghela udara Bumi?!
Kau yang tinggal di Bumi, tidakkah Bumi mengingatkanmu akanku?! Akan masa-masa saat kita bersama dulu, tidakkah menyakitimu?! Karena itu menyakitiku saat aku berada di Bumi. Aku bertanya-tanya sendiri, aku tidak lagi di Bumi, tapi masih saja teringat akanmu. Apa yang salah, apa yang membuatku tetap saja mengingatmu?!
Apa mungkin detak jantungku yang mengingatkanku akanmu?!
Ah, aku sadar. Ini memang detak jantung yang sama yang kupakai saat aku bersamamu dulu, saat juga kau bernafas di dekatku, karena itu aku tak bisa melupakanmu. Aku tersadar, mungkin selama detak jantungku masih berdetak seperti ini, aku tak akan pernah bisa melupakanmu. Bagaimana lagi, aku harus menyerah dengan usaha melupakanmu.
Maka dengan luluh lelahku aku menyerah. Aku pindah dari Mars, karena ternyata satu tahun di sana 687 hari Bumi. Kau pasti tetap lebih dulu mati, karena di Bumi hanya 365 hari setahun.
Maka di sinilah aku, sampai saat ini. Tidak jauh darimu, kau hanya tak tau. Aku berada di Venus saat ini. Di sini tidak terlalu nyaman. Ini mungkin tempat yang tepat bagiku, kekasih. Kau tau?! satu tahun di sini hanya 225 hari di Bumi. Aku pasti lebih dulu mati darimu. Tapi satu hari di sini, 243 hari di bumi. Sampai saat ini, dalam satu hari aku mengingatmu 243 kali lebih banyak dari di Bumi, bila kau ingin tau.
Mungkin karena berada di tempat ini, aku akan lebih dulu mati darimu, mungkin kau akan merasa kehilangan saat itu. Itupun bila kau tau, karena kau tak lagi melihatku. Itupun bila kau tau, karena aku tak tau bagaimana cara memberitaumu bila aku mati nanti. Walaupun aku tau, mungkin aku akan berpikir ribuan kali lebih dulu sejak aku mati apakah kau perlu tau dengan kematianku. Bagaimana mungkin aku rela menyakitimu dengan kehilanganku. Kau tak akan tau.
Aku di sini, kekasih, di Venus. Tiap hari, aku mencintaimu 243 kali lebih banyak dari saat dulu aku masih di Bumi. Lihat aku.
Ah iya, Venus adalah planet asal wanita, katanya. Tapi aku tak dapat melihat satupun wanita di sini, kekasih. Apa kau tau mengapa?!
LET IT FLY
Tuhan tahu kita semua seniman dalam hidup. Suatu hari, Dia memberi kita palu untuk membuat patung, di hari lain Dia memberi kita kuas dan cat untuk melukis, atau kertas dan pensil untuk menulis. Tapi kau tidak bisa melukis dengan palu, atau membuat patung dengan kuas. Karena itu, betapapun sulitnya, aku harus menerima berkat kecil hari ini, walaupun berkat itu terlihat bagai kutukan, karena aku merasa menderita pada hari yang indah ini, saat matahari bersinar cerah dan anak-anak bernyanyi di jalanan. Ini satu-satunya jalan bagiku untuk meninggalkan kepedihanku dan membangun kembali hidupku,
Itu sebabnya sangat penting untuk membiarkan hal-hal tertentu berlalu. Lepaskan saja. Biarkan. Orang perlu mengerti bahwa hidup tidak pasti. Kadang-kadang kita menang, kadang-kadang kita kalah. Jangan harapkan imbalan, jangan harapkan pujian atas usahamu, jangan harapkan kejeniusanmu dikenal orang atau cinta mu dimengerti. Tutup lingkarannya. Bukan karena gengsi, ketidak mampuan atau arogansi, tapi karena apapun hal itu, itu sudah tidak sesuai lagi dengan hidupmu. Tutup pintu, hapus catatan, bersihkan rumah, buang debu. Berhentilah menjadi dirimu yang dulu dan jadilah dirimu yang sekarang.
Ah... cinta lagi.. cinta lagi...
Harapku, Ketika aku sudah tidak memilikki apa pun lagi yang bisa dirampas dariku, aku diberi segalanya. Ketika aku sudah tidak lagi menjadi diriku, kutemukan diriku. Ketika aku mengalami kenistaan tapi tetap mengayunkan langkahku, aku mengerti bahwa aku bebas memilih takdirku. Mungkin ada yang salah dengan diriku, entahlah, mungkin hubunganku hanya impian yang tak kumengerti. Yang kutahu walaupun aku bisa hidup tanpa dia, aku ingin bertemu dengannya lagi, untuk mengatakan apa yang tak pernah kukatakan ketika kami masih bersama: aku mencintaimu melebihi cintaku pada diriku sendiri. Kalau aku bisa mengatakan itu, aku bisa meneruskan hidupku, berdamai dengan diriku, karena cinta itu telah menyelamatkanku.
Pada waktu orang membolehkan cinta sejati muncul, hal-hal yang tadinya teratur menjadi berantakan dan menjungkirbalikkan semua yang tadinya kita kira benar dan betul. Dunia akan menjadi suatu kenyataan saat orang belajar mengenal arti cinta; sampai saat itu tiba, kita akan hidup dalam keyakinan bahwa kita tahu arti cinta, tetapi kita selalu tidak pernah punya suatu keberanian untuk menghadapi arti cinta yang sebenarnya.
Cinta adalah kekuatan yang tak akan pernah ditundukkan. Kalau kita berusaha mengendalikannya, cinta akan menghancurkan kita. Kalau kita berusaha mengurungnya, cinta akan memperbudak kita. Kalau kita mencoba memahaminya, cinta akan meninggalkan kita dalam kebingungan.
Langganan:
Postingan (Atom)

